Posted in Principal Life

Hai Guru, Pekerjaanmu adalah Mulia

Suatu hari saya ditegur suami saat di jalan bertemu dengan anak-anak murid yang sedang naik motor bonceng tiga, dan saya nanya “Itu anak-anak kita bukan?’’, saat itu suami bilang bahwa itu bukan urusan saya karena sudah bukan jam sekolah. Saya jadi termenung dan berpikir, apakah guru-guru di sekolah memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan?

Beberapa jawabannya adalah Ya. Ada guru bercerita kepada saya bahwa seringkali beliau menegur anak-anak muridnya yang nongkrong di jalan, menggunakan baju bebas, dan bukan di jam sekolah. Ada juga guru yang melihat murid berbuat tidak senonoh, hati beliau ketar-ketir, sehingga merasa harus memberikan arahan kepada mereka. Padahal kalau kita mau bilang, kenapa harus kita? Di mana orang tua mereka? Apakah mereka tidak peduli dengan apa yang anak-anak mereka lakukan? Dan kita menganggap bahwa anak tersebut adalah tanggung jawab kita? Mengapa kita harus khawatir dengan keselamatan anak orang lain? Mengapa kita khawatir dengan pandangan orang terhadap anak orang lain? Mengapa kita peduli dengan masa depan anak orang lain? Mengapa kita rela mengorbankan tenaga dan pemikiran kita demi anak orang lain? Mengapa oh mengapa?

Subhanallah, peran guru ini sangat luar biasa. Berusaha mengcover seluruh kebutuhan siswa, baik itu kebutuhan akademik, kasih sayang, kebutuhan akan perhatian yang tidak di dapatkan mereka di rumah. Mungkin orang-orang materialistis di luar sana memandang sebelah mata, akan tetapi dengan peran seperti itu apakah Bapak-Ibu guru masih memandang mereka lebih baik?

Hei wake up Bapak Ibu! Kita sedang menjalankan sebuah proyek besar, yaitu proyek pembentukan manusia menjadi lebih baik, jadi kita sama dengan mereka.

Berapa banyak orang yang tidak memiliki passion sebagai guru mencoba mengajar di sekolah yang akhirnya… failed! Berapa banyak guru yang akhirnya keluar karena tidak mampu menghadapi siswa dan masalah-masalah yang terjadi di sekolah. Mampukah mereka bertahan dengan peraturan yang telah disepakati bersama? Orang yang beruntung akan bekerja dengan passion, dan orang yang memiliki passion sebagai guru akan mampu mengikuti, belajar, mengambil peluang, dan mengembangkan dirinya.

Projek besar ini hanya dapat diemban oleh orang-orang yang tangguh, dan kita  adalah salah satunya! Berapa banyak anak murid yang akan menyapa dan menyalami kita saat bertemu di jalan? Berapa banyak orang tua yang tersadar bahwa tanpa Bapak ini anak saya tidak akan seperti ini, tanpa Ibu itu anak saya tidak akan seperti itu? Atau jika kita pikir pahit, jika memang jasa kita dilupakan, bayangkanlah berapa dari ratusan anak kita yang akan membawa kita ke surga?

Nah guru, apakah engkau sadar, engkau mencintai muridmu dibandingkan hidupmu sendiri?

Oleh karena itu, angkatlah dagumu dan katakan dalam hati bahwa pekerjaanku ini mulia!

Advertisements

Komunikasi vs Judgement

Pagi tadi saya mengadakan rapat intern dengan para wakil kepala sekolah dan badan pelaksana harian sekolah. Seperti biasa kami membahas hal-hal yang terjadi di sekolah sambil makan gorengan dengan santai. Kami membahas masalah yang terjadi hari itu dan membahas mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan, sambil menandatangani beberapa proposal kegiatan.

Kemudian kami mulai berbicara tentang masalah salah satu wakil kepala sekolah yang sempat berselisih faham dengan seorang guru. Memang beliau dikenal memiliki karakteristik unik, yang mungkin bisa dibilang “Tidak tahu maunya apa”. Semua anak murid takut kepadanya, guru juga enggan bicara dengannya, bahkan wakil-wakil yang lain pun bingung dengan sikapnya. Wakasek tersebut memang sangat disiplin sampai-sampai ‘’apapun’’ yang saya katakan pasti dilakukan (tidak diadaptasi sesuai keadaan). Tapi saya tahu segalak apapun beliau pasti ingin yang terbaik untuk sekolah, muridnya, bahkan teman-temannya. Mungkin banyak hal yang terjadi di masa lalunya sehingga sikapnya seperti itu (dasar anak psikologi). Tapi saya yakin tidak ada seorang guru pun yang punya pikiran jahat kepada anak muridnya bahkan temannya sendiri, hanya saja pola komunikasi yang kurang baik menjadikan beliau tersebut dijauhi oleh anak-anak dan kerabat-kerabatnya.

Inilah pentingnya komunikasi, komunikasi yang baik dapat menghindari judgement, gosip bahkan provokasi. Untuk memperbaiki hal yang mis dalam berkomunikasi kita perlu,

  • Menanyakan secara baik-baik apa maksud dari sikap dan ucapan seseorang, agar tidak timbul kesalahpahaman.
  • Bicarakan secara langsung lebih baik. Hindari memakai perantara.
  • Untuk pimpinan berikan kesempatan individu untuk memberikan penjelasan, fokus kepada hal positif itu lebih baik daripada terus berkutat pada kesalahan individu. Kita juga bisa membentuknya secara perlahan sesuai dengan potensinya.
  • Untuk anak murid, seperti apapun gurumu tetap guru yang harus kita hormati.

So, secerdas dan setinggi apapun jabatan kita, jika tidak didukung dengan komunikasi yang baik, akan merusak seluruh domain kehidupan kita. Selamat ngobrol! 🙂