Biaya Pendidikan di Sekolah Swasta Mahal? Is it worth?

Sebagai orang tua meski kebutuhan lain buanyak, tapi tetep ya demi pendidikan terbaik kita rela ngerogoh kocek dalam-dalam demi investasi terbesar kita dunia-akherat yaitu anak-anak. Mungkin kita pernah mendengar tetangga, orang tua, keluarga, atau mungkin kita sendiri bertanya-tanya  ‘’Kenapa sih sekolah swasta mahal banget?’’. Saya juga pernah berpikir gitu, hingga akhirnya saya tersadar kemudian tergelitik untuk menulis blog ini.

Cusss dilihat, dibaca, dan diterawang tulisan ini dear parents.

Dulu sekolah adalah ladang pahala (sekarang juga sih), dulu sekolah bukan untuk cari duit, sekarang bisa ya dan bisa tidak, karena sekarang menjadi tenaga pendidik di sekolah merupakan sebuah profesi yang menjanjikan. Tahu gak sih Bapak-Ibu sekalian, tugas utama guru jaman now sudah beralih dari hanya mengajar di kelas menjadi Tersenyum Berseri Sepanjang Hari (TBSH).

Guru tetap harus menerapkan TBSH dalam keadaan APAPUN, demi kenyamanan peserta didik. Yes, kita menitipkan kewarasan dan potensi anak kita kepada mereka. Oleh karena itu mendidik anak untuk waras memerlukan tenaga pendidik yang juga waras, maka gak ada salahnya dong kita membuat mereka bahagia. Walaupun materi bukan sumber kebahagiaan, tapi imbalan yang sesuai juga bisa menambah semangat khaan. Nah bagi guru swasta, imbalan (gaji, reward, kenyamanan tempat dll) bersumber dari sekolah (mungkin berbeda dengan sekolah Negeri yang dibiayai pemerintah), sekolah tidak akan bisa membiayai guru tanpa dana dari kita.

Saya pernah melakukan diskusi kecil-kecilan kepada beberapa kepala sekolah swasta di Jakarta, hasilnya adalah hampir 100% dari mereka kesulitan melakukan perubahan dengan gaji guru yang seadanya dan kebanyakan dari mereka meningkatkan kualitas dengan biaya yang cukup besar (hasil diskusi bisa dilihat di sini). Perubahan ini bukan hanya berkaitan dengan bangunan atau yang bersifat fisik saja, juga berkaitan dengan keseimbangan reward dengan SOP yang telah ditetapkan.

Nah, karena biaya pendidikan yang besar, kita juga butuh timbal balik dong, ya gak Bapak-Ibu? Pastinya kita mau memastikan sekolah yang kita tuju selain memperhatikan tenaga pendidiknya juga memperhatikan anak kita sebagai peserta didik. Untuk itu sekolah yang baik biasanya memenuhi beberapa kriteria di bawah ini:

  1. Mengerti tugas perkembangan anak.

Ini penting banget karena sekolah yang ‘berorientasi’ pada perkembangan anak biasanya dapat menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi dan latar belakang mayoritas peserta didik di sekolah, dimulai dari penetapan waktu belajar mengajar, waktu anak dan guru beristirahat, dan lain sebagainya.

  1. Disiplin

Kita ga bisa memungkiri ya bahwa kedisiplinan ini begitu menjadi momok dalam dunia pendidikan karena biasanya sekolah yang disiplin ingin mempersiapkan anak untuk melaksanakan tanggung jawab dimulai dari hal-hal kecil, maka dari itu sekolah yang bersangkutan biasanya sangat strict dalam hal peraturan dan kegiatan yang meningkatkan kedisiplinan.

  1. Memperhatikan potensi anak.

Sekolah yang baik biasanya ingin memunculkan potensi-potensi anak yang tidak terlihat, bisa jadi anak kita begitu pendiam, begitu ‘aktif’, tanggap dalam hal akademik atau tidak, mudah bersosialisasi atau tidak, dan lain sebagainya. Namun sekolah yang memperhatikan potensi anak biasanya sangat yakin bahwa peserta didik punya kelebihan di bidang masing-masing. Biasanya mereka meiliki beragam kegiatan untuk menggalinya, misalnya ekstrakurikuler, lomba-lomba, atau kegiatan-kegiatan lainnya.

  1. Memiliki keunggulan.

Sekolah yang memikirkan anak biasanya tidak akan membiarkan anak keluar dari sekolah tanpa membawa apapun, setidaknya ada satu keunggulan yang dibawa anak untuk masa depannya, biasanya keunggulan ini berhubungan dengan kompetensi khusus sekolah yang semua peserta didik wajib memilikinya.

  1. Perubahan pola pikir

Salah satu misi penting dalam pendidikan adalah perubahan pola pikir ke arah yang positif minimal dalam satu bidang, sehingga memunculkan perilaku-perilaku yang baik pula. Biasanya tenaga pendidik akan memberikan arahan-arahan yang baik sesuai dengan norma, dan sangat menerapkan prinsip motivasi dan apersepsi pada kegiatan pembelajaran.

  1. Biaya sejalan dengan hospitality

Semakin mahal biaya pendidikan yang dikeluarkan semestinya semakin baik pula pelayanan, kegiatan dan fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Untuk hal ini, Bapak-Ibu bisa hunting atau tanya-tanya dulu untuk menguji kecocokan. Kalau bisa buat perbandingan.

  1. Monitoring yang ketat.

Sekolah yang memikirkan anak biasanya sangat memperhatikan para pendidik dan peserta didiknya, maka tidak heran jika sekolah tersebut sering mengadakan evaluasi, misalnya rapat, pemanggilan orang tua, home visit, dan lain sebagainya.

  1. Melibatkan orang tua, masyarakat dan ahli.

Sekolah juga membutuhkan masukan, kritik dan saran dari nerbagai komponen, dan biasanya mereka sangat terbuka dengan masukan atau program baru yang disarankan oleh orang tua, masyarakat, atau para ahli. Jika ada poin-poin di atas yang belum terpenuhi maka silahkan konsultasikan kepada pihak sekolah, jika respon baik, berarti Bapak-Ibu selama ini memilih sekolah yang tepat.

  1. Jarak dari rumah

Ini saya sadur dari tulisan Kak Seto Mulyadi, tentang perhitungan jarak dengan kondisi anak, untuk menghindari anak lelah di jalan, dan lain sebagainya.

Apakah sekolah Bapak-Ibu memiliki beberapa poin di atas? Jika ya, berarti Bapak-Ibu sudah memilih sekolah yang tepat. Perlu diingat, semakin tinggi kebutuhan di atas sangatlah wajar jika biaya pendidikan anak kita semakin mahal.

Jika ada pertanyaan dan masukan silahkan tulis dikolom komentar ya. Terimakasih. Happy hunting dear parents! (bersambung)

Advertisements

13 Cara agar Guru Berwibawa di Mata Siswa

Kewibawaan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, bahkan dalam Neuro Linguistik Programming ada yang namanya anchor di mana seseorang mempatenkan karakter dirinya di hadapan orang lain (ciri khas). Dengan sikap berwibawa biasanya seseorang akan terlihat lebih dewasa dan penting. Namun, kebanyakan orang keliru dengan menganggap kewibawaan hanya berpredikat kepada atasan, padahal di  mana kita bekerja atau memegang amanah, di situlah kita bisa belajar untuk terlihat penting:

Berikut 13 Tips Meningkatkan Kewibawaan yang harus diketahui, yaitu :

1. Berpakaian Rapih & Profesional

Seorang yang lekat dengan pakaian yang rapih, sopan, bisa memunculkan aura kewibawaan pada dirinya. Perlu Anda ingat, biasaanya dalam benak kita sudah lekat dengan istilah “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja,” dalam dunia profesionalisme lingkup kerja istilah ini tidak berlaku sama sekali. Sejatinya, penampilan memang belum tentu mencerminkan isi hati atau kepribadian, namun di dalam mendidik, Anda merupakan figur, peserta didik Anda akan respect kepada Anda jika penampilan Anda menjelaskannya. Penampilan dihitung dalam penilaian. Ada beberapa tingkatan ekspektasi tinggi saat seseorang melihat penampilan orang lain di tempat kerja. Kita tentu memiliki ekspektasi tinggi terhadap penampilan seorang eksekutif. Berpakaianlah seperti seorang eksekutif jika ingin dipandang seperti mereka.

E842E2DC-DB7E-4EEA-BC83-E1AD0F9BC0BC

2. Kepala adalah asset

Setiap peserta didik atau orang tua biasanya akan memperhatikan kita mulai dari kepala. oleh karena itu, dengan memperhatikan rambut atau jilbab (bagi perempuan yang berjilbab), seorang akan terlihat lebih rapih dan berwibawa. Rambut dan jilbab yang tertata rapi akan selalu membuat Anda terlihat lebih segar dan berpengaruh di mata peserta didik Anda. Khusus bagi kaum wanita, potongan rambut berponi sebaiknya dihindari karena akan membuat wajah Anda kekanak-kanakan dan kurang memperlihatkan sisi kedewasaan Anda, untuk yang menggunakan jilbab perhatikan kerapian, ketepatan warna dan aksesoris, warna dan aksesoris yang terlalu mencolok juga akan membuat Anda terlihat berlebihan. Sementara pria disarankan tidak memanjangkan rambut dan menatanya dengan rapi.

Cucilah wajah Anda dengan sabun agar tidak berminyak bagi pria, bagi wanita sapukan make up sederhana agar wajah terlihat lebih segar.

3. Tidak Bicara Sembarangan

Jika ingin terlihat berwibawa di mata peserta didik, maka Anda harus menguasai ilmu kewibawaan salah satunya adalah “public speaking”. Seorang pemimpin biasanya akan berbicara dengan cara efektif, tepat sasaran, dan tidak bertele-tele. Perlu diketahui, terlalu banyak bicara, bebelit-belit, susah dicerna, penggunaan bahasa daerah yang tidak pada tempatnya, serta latah adalah penyakit dalam berkomunikasi yang harus Anda hindari.

4. Bersikap tegas

Ketegasan bukan berarti menunjukkan amarah atau kekerasan yang mencerminkan tindakan kriminalitas melainkan arti tegas disini berarti menunjukkan sikap diplomatis, santun, dan mampu membuat keputusan dengan segera. Di dalam menangani peserta didik, kecerdasan dalam mengambil sikap amat sangat diperlukan demi kelancaran komunikasi.

5. Rapikan Ruang Kerja Anda

Kebiasaan yang banyak dilupakan oleh kebanyakan guru adalah kurang memperhatikan kerapian di lingkungan kerja mereka. Seberapa sibuk pekerjaan Anda, seberapa lama durasi Anda bekerja, jaga selalu barang-barang Anda agar senantiasa rapi. Meja dan ruang kerja yang berantakan mencerminkan kepribadian pemalas, santai, dan tidak profesional. Hal itulah yang membuat Anda tampak tidak berwibawa di mata peserta didik.

6. Suka Berbagi Ilmu dan Menawarkan Bantuan

Seorang pendidik harus gaulgaul berarti up to date dengan keadaan saat ini. Sampaikanlah cerita kekinian yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Sampaikan dengan bahasa yang lugas dan sopan agar peserta didik merasa tertarik untuk mendengarkan.

7. Mencatat Hal Penting

Mencatat semua hal penting misalnya rencana pembelajaran, hasil observasi harian, dan lain sebagainya merupakan salah satu cara meningkatkan kewibawaan, mengapa? Karena akan sangat membantu Anda untuk mengingat jika ada kejadian-kejadian yang tak terduga sehingga meminimalisir kata ”tidak tahu” di depan peserta didik.

9. Hindari Menjadi Objek Ejekan

Cara meningkatkan kewibawaan yang satu ini memang sulit dipungkiri, dalam satu lingkungan, biasanya ada objek yang dijadikan bahan ejekan dan candaan. Perlu diingat, seorang objek ejekan tentulah seseorang yang dinilai peserta didik punya banyak kelemahan, kurang berwibawa, dan tidak disegani. Hindari menjadi objek candaan dengan melakukan 8 poin di atas.

Yang menjadi catatan disini adalah “Jangan bergurau melebihi batas kewajaran, namun gurauan tetap diperlukan.” Bergurau akan menciptakan suasana santai dan tetap menjaga wibawa Anda jika Anda tidak tertawa terbahak-bahak atau membuat atraksi lelucon yang konyol di hadapan peserta didik.

10. Perlakukan atasan seperti sahabat

Dalam lingkup profesional, biasanya Anda memiliki pimpinan. Jangan pernah sungkan-sungkan untuk berkomunikasi dengan atasan Anda. Baginya Anda adalah orang penting yang sesuai untuk berbincang-bincang dengannya. Bertanyalah kepadanya jika ada pertanyaan tentang peserta didik, diskusikanlah sebuah kejadian, atau berikanlah saran atau masukan, dengan itu Anda tidak akan miskomunikasi dengan atasan di depan peserta didik.

11. Jangan Ungkapkan Masalah Pribadi

Sebagai seorang pendidik kita harus mengomunikasikan perasaan kita kepada peserta didik, namun tidak dengan masalah peribadi. Mengeluh atau mnceritakan urusan peribadi dapat menebarkan energi negatif kepada peserta didik Anda. Anda lebih baik meritakan hal tersebut secara personal dengan seorang teman atau pimpinan dengan persetujuannya.

12. Suka Hidup Bermasyarakat

Berbaur sambil membicarakan hal-hal baru yang ringan dan berbobot sesuai dengan suasana akan memberi kesan bahwa Anda bersahabat dengan mereka. Secara tidak langsung orang lain akan merasa nyaman dan menganggap Anda merupakan bagian dari mereka.

13. Mampu menjadi teladan bagi orang lain

Rosulullah SAW diutus Allah SWT di dunia ini untuk menyempurnakan ahlak dan menjadi suri teladan yang baik bagi manusia. Contoh yang baik dapat memengaruhi kepribadian peserta didik. Hal tersebut akan menunjukkan bahwa Anda menjadi panutan atau orang yang berpengaruh bagi mereka.

Demikian beberapa hal yang dapat meningkatkan kewibawaan. Hayoooo, Anda sudah punya karakter yang mana saja?

 

Hai Guru, Pekerjaanmu adalah Mulia

Suatu hari saya ditegur suami saat di jalan bertemu dengan anak-anak murid yang sedang naik motor bonceng tiga, dan saya nanya “Itu anak-anak kita bukan?’’, saat itu suami bilang bahwa itu bukan urusan saya karena sudah bukan jam sekolah. Saya jadi termenung dan berpikir, apakah guru-guru di sekolah memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan?

Beberapa jawabannya adalah Ya. Ada guru bercerita kepada saya bahwa seringkali beliau menegur anak-anak muridnya yang nongkrong di jalan, menggunakan baju bebas, dan bukan di jam sekolah. Ada juga guru yang melihat murid berbuat tidak senonoh, hati beliau ketar-ketir, sehingga merasa harus memberikan arahan kepada mereka. Padahal kalau kita mau bilang, kenapa harus kita? Di mana orang tua mereka? Apakah mereka tidak peduli dengan apa yang anak-anak mereka lakukan? Dan kita menganggap bahwa anak tersebut adalah tanggung jawab kita? Mengapa kita harus khawatir dengan keselamatan anak orang lain? Mengapa kita khawatir dengan pandangan orang terhadap anak orang lain? Mengapa kita peduli dengan masa depan anak orang lain? Mengapa kita rela mengorbankan tenaga dan pemikiran kita demi anak orang lain? Mengapa oh mengapa?

Subhanallah, peran guru ini sangat luar biasa. Berusaha mengcover seluruh kebutuhan siswa, baik itu kebutuhan akademik, kasih sayang, kebutuhan akan perhatian yang tidak di dapatkan mereka di rumah. Mungkin orang-orang materialistis di luar sana memandang sebelah mata, akan tetapi dengan peran seperti itu apakah Bapak-Ibu guru masih memandang mereka lebih baik?

Hei wake up Bapak Ibu! Kita sedang menjalankan sebuah proyek besar, yaitu proyek pembentukan manusia menjadi lebih baik, jadi kita sama dengan mereka.

Berapa banyak orang yang tidak memiliki passion sebagai guru mencoba mengajar di sekolah yang akhirnya… failed! Berapa banyak guru yang akhirnya keluar karena tidak mampu menghadapi siswa dan masalah-masalah yang terjadi di sekolah. Mampukah mereka bertahan dengan peraturan yang telah disepakati bersama? Orang yang beruntung akan bekerja dengan passion, dan orang yang memiliki passion sebagai guru akan mampu mengikuti, belajar, mengambil peluang, dan mengembangkan dirinya.

Projek besar ini hanya dapat diemban oleh orang-orang yang tangguh, dan kita  adalah salah satunya! Berapa banyak anak murid yang akan menyapa dan menyalami kita saat bertemu di jalan? Berapa banyak orang tua yang tersadar bahwa tanpa Bapak ini anak saya tidak akan seperti ini, tanpa Ibu itu anak saya tidak akan seperti itu? Atau jika kita pikir pahit, jika memang jasa kita dilupakan, bayangkanlah berapa dari ratusan anak kita yang akan membawa kita ke surga?

Nah guru, apakah engkau sadar, engkau mencintai muridmu dibandingkan hidupmu sendiri?

Oleh karena itu, angkatlah dagumu dan katakan dalam hati bahwa pekerjaanku ini mulia!

Membentuk Tim yang Solid

Heylowww… Ini adalah tulisan pertama saya di blog. Sebenarnya saya pernah mempost tulisan di web sekolah saya, www.smpattahiriyahcakung.com, tapi baru kepikiran bikin blog. Niatnya pengen ngelancarin nulis aja dan berbagi informasi tentang pengalaman selama lima tahun menjadi kepala sekolah. Mohon dimaklum kalau ada penulisan atau tata bahasa yang kurang catchy, karena masih belajar…

Pada tulisan saya terdahulu (bisa diunduh di sini), saya pernah membahas mengenai bagaimana menjadikan sekolah berkualitas, salah satu syaratnya adalah terbentuknya tim managemen yang solid. Membangun sebuah tim yang solid tentu tidak mudah karena menyatukan beberapa pemikiran, ide, bahkan hati. Mengapa hati? Karena membentuk tim yang solid juga perlu membangun chemistry antar individu yang nota bene memiliki sifat, karakter dan kepribadian yang berbeda. Namun inilah tantangannya!

Selama lima tahun ini saya punya catatan penting yang harus dilakukan untuk membangun bahkan mempertahakan tim yang solid di sekolah, check it out!

  1. Pola Komunikasi

Komunikasi adalah ujung tombak kekuatan sebuah tim. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki gaya komunikasi mereka masing – masing. Perbedaan ini kadang membuat penyampaian informasi sering tidak tersampaikan dengan baik, bahkan salah-salah dapat memicu provokasi. Zeram kan? Tim yang solid harus saling mengerti bagaimana pola komunikasi antar anggota tim, terutama pemimpin dari sebuah tim. Tujuannya adalah memudahkan kita untuk mencapai visi bersama.

  1. Mengetahui tipe kepribadian

Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang, individu di dalam sebuah tim perlu mengenal kelebihan dan kelemahan satu sama lain. Oleh karena itu, masing – masing anggota khususnya pemimpin tim harus dapat menyatukan perbedaan. Sebagai ketua atau pemimpin, kita harus bisa mengetahui bagaimana tipe kepribadian dari masing-masing individu. Jika kita mengetahui hal tersebut, kita dapat memberikan mereka tugas yang dapat membuat mereka berkembang dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

  1. Keseimbangan antara tugas dan kesenangan

Tim bukan hanya sekedar mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan secara bersama – sama, memikul beban dan berbagi tugas. Tapi tim juga tempat di mana setiap orang dapat berbagi kebahagiaan dan kesenangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Sesekali adakan rapat santai. Bahas apapun yang terjadi di sekolah namun sambil menikmati makanan yang disediakan, gak usah mewah, gorengan juga sudah senang, lebih baik sih kalau disediain pizza hehe. Hal ini akan memungkinkan untuk mengeluarkan ‘’unek-unek’’ atau masalah-masalah yang tersembunyi, selain itu anggota tim akan mengenal pemimpin lebih baik.
  • Percayai tim. Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan atau mendelegasikan kepemimpinan kepada mereka. Biarkan mereka mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka akan bertanya jika mereka merasa butuh bantuan saja.
  • Berbicara secara personal. Bicaralah, kalau bisa bantu urusan mereka mengenai masalah selain urusan pekerjaan, seperti masalah keluarga, hobbi, atau yang lain. Dengan demikian mereka merasa mendapat atensi yang tulus dari pimpinannya.
  • Sesekali tanyakan saran pada mereka atas suatu masalah yang sulit yang sedang dicari solusinya. Faktanya, seringkali anggota tim memiliki ide bahkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pemimpin. Mereka dapat membantu pemimpin tim dalam mengatasi masalah. Dengan menanyakan saran kepada mereka, akan membuat anggota tim merasa lebih dihargai. Hal ini secara tidak sadar akan meningkatkan kadar kepemimpinan pemimpin dimata mereka. Kita juga bisa belajar banyak dari mereka toh?
  • Berbagi informasi kepada tim. Bisa berbagi informasi mengenai lingkungan, kejadian-kejadian yang terjadi saat itu, artikel yang menarik, berita yang sedang booming dan berita menarik lainnya.
  • Berbagi ilmu atau keahlian. Hal ini selain akan meningkatkan kompetensi anggota tim, juga akan membuat anggota tim merasa bahwa pemimpin mereka tidak sekedar nyuruh-nyuruh saja, namun juga educator bahkan leader mereka. Ini akan membuat mereka lebih loyal kepada kita.
  • Libatkan anggota tim dalam mengambil keputusan yang sulit. Pada saat sulit, tunjukkan bahwa pimpinan mampu mengatasi problem tersebut dan mendapat hasil yang mumpuni. Keterlibatan tim atas proses penyelesaian masalah yang berujung pada hasil, akan membentuk suatu ikatan batin yang luar biasa.
  • Rayakan keberhasilan atas pencapaian target atau keberhasilan melewati masalah bersama-sama dengan anggota tim. Kita bisa mengajak mereka jalan-jalan, mancing, nonton bersama, makan bersama, dan lain-lain.

That’s all! Semoga kita dapat membangun tim yang solid!

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑