Posted in Opini, Principal Life

STRONG? What is it?

Seringkali saya mendengar anak-anak remaja berkata: ”Wedeeh.. Strooong!”. Sekarang saya mau tanya, apa sih sebenarnya si setrong itu? Petantang-petenteng keroyokan, ikut tawuran, apakah itu strong? Berantem, tonjok-tonjokan di jalan, apakah itu strong? Berkata kasar, bullying, provokasi, atau gaya-gayaan naik motor tanpa SIM, merokok padahal masih ngetek dan ngerengek minta jajan sama emak-bapak, apakah itu strong? Berani melakukan hal negatif, apakah itu STRONG?

So sorry to say that sekali-kali hal negatif and WHATSOEVER yang kalian lakukan tidak akan pernah membuktikan bahwa orang tersebut STRONG! Hal tersebut malah membuktikan bahwa hanya hal-hal negatif yang bisa dilakukan untuk menutupi kelemahan, merasa tidak ada yang bisa dibanggakan kecuali dengan sok keren yang sebenarnya adalah norak, bahkan hal tersebut bisa menyeret kalian ke kantor polisi.

Anakku, masa muda memang banyak pilihan, tapi pilihan yang baik akan menuai hasil yang baik pula. Kalau ada yang bilang ‘’Nakal dulu baru Sukses, it’s bullshit!! Karena jarang banget ada kisah kenakalan  yang happy ending. Sukses itu adalah tanggung jawab. Semakin besar kalian bertanggungjawab terhadap diri sendiri semakin besar peluang kalian untuk sukses.

Ayoo jadi anak yang STRONG! Strong artinya memiliki prinsip yang kuat, sehingga tidak mudah dipengaruhi orang lain, tidak mudah terprovokasi, berani untuk maju, berani untuk SUKSES, berani menjalani konsekuensi atas pilihan dan hidupnya, berani berkata “TIDAK” kepada hal-hal negatif. Selesaikan permasalahan kalian dengan SLOW, COOL dan WISE.

Saya yakin kalian semua bisa menjadi anak-anak yang strong, positif, sukses, dan membanggakan!

-Spread love-

*Tulisan ini saya tulis saat saya terpukul mendengar anak didik saya tertangkap polisi dengan tuduhan terlibat tawuran, ternyata mereka tidak melakukan tawuran, mereka hanya diajak oleh anak SMP lain yang mereka tidak kenal. Dengan kejadian ini saya akan menjadikan materi KONSEP DIRI sebagai materi wajib di mata pelajaran Bimbingan dan Konseling di SMP Assyairiyah Attahiriyah, dengan harapan anak-anak mampu mengenal diri dan memiliki prinsip hidup sehingga tidak mudah terpengaruh hal negatif dari luar dirinya.

 

Advertisements
Posted in Principal Life

Hai Guru, Pekerjaanmu adalah Mulia

Suatu hari saya ditegur suami saat di jalan bertemu dengan anak-anak murid yang sedang naik motor bonceng tiga, dan saya nanya “Itu anak-anak kita bukan?’’, saat itu suami bilang bahwa itu bukan urusan saya karena sudah bukan jam sekolah. Saya jadi termenung dan berpikir, apakah guru-guru di sekolah memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan?

Beberapa jawabannya adalah Ya. Ada guru bercerita kepada saya bahwa seringkali beliau menegur anak-anak muridnya yang nongkrong di jalan, menggunakan baju bebas, dan bukan di jam sekolah. Ada juga guru yang melihat murid berbuat tidak senonoh, hati beliau ketar-ketir, sehingga merasa harus memberikan arahan kepada mereka. Padahal kalau kita mau bilang, kenapa harus kita? Di mana orang tua mereka? Apakah mereka tidak peduli dengan apa yang anak-anak mereka lakukan? Dan kita menganggap bahwa anak tersebut adalah tanggung jawab kita? Mengapa kita harus khawatir dengan keselamatan anak orang lain? Mengapa kita khawatir dengan pandangan orang terhadap anak orang lain? Mengapa kita peduli dengan masa depan anak orang lain? Mengapa kita rela mengorbankan tenaga dan pemikiran kita demi anak orang lain? Mengapa oh mengapa?

Subhanallah, peran guru ini sangat luar biasa. Berusaha mengcover seluruh kebutuhan siswa, baik itu kebutuhan akademik, kasih sayang, kebutuhan akan perhatian yang tidak di dapatkan mereka di rumah. Mungkin orang-orang materialistis di luar sana memandang sebelah mata, akan tetapi dengan peran seperti itu apakah Bapak-Ibu guru masih memandang mereka lebih baik?

Hei wake up Bapak Ibu! Kita sedang menjalankan sebuah proyek besar, yaitu proyek pembentukan manusia menjadi lebih baik, jadi kita sama dengan mereka.

Berapa banyak orang yang tidak memiliki passion sebagai guru mencoba mengajar di sekolah yang akhirnya… failed! Berapa banyak guru yang akhirnya keluar karena tidak mampu menghadapi siswa dan masalah-masalah yang terjadi di sekolah. Mampukah mereka bertahan dengan peraturan yang telah disepakati bersama? Orang yang beruntung akan bekerja dengan passion, dan orang yang memiliki passion sebagai guru akan mampu mengikuti, belajar, mengambil peluang, dan mengembangkan dirinya.

Projek besar ini hanya dapat diemban oleh orang-orang yang tangguh, dan kita  adalah salah satunya! Berapa banyak anak murid yang akan menyapa dan menyalami kita saat bertemu di jalan? Berapa banyak orang tua yang tersadar bahwa tanpa Bapak ini anak saya tidak akan seperti ini, tanpa Ibu itu anak saya tidak akan seperti itu? Atau jika kita pikir pahit, jika memang jasa kita dilupakan, bayangkanlah berapa dari ratusan anak kita yang akan membawa kita ke surga?

Nah guru, apakah engkau sadar, engkau mencintai muridmu dibandingkan hidupmu sendiri?

Oleh karena itu, angkatlah dagumu dan katakan dalam hati bahwa pekerjaanku ini mulia!

Komunikasi vs Judgement

Pagi tadi saya mengadakan rapat intern dengan para wakil kepala sekolah dan badan pelaksana harian sekolah. Seperti biasa kami membahas hal-hal yang terjadi di sekolah sambil makan gorengan dengan santai. Kami membahas masalah yang terjadi hari itu dan membahas mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan, sambil menandatangani beberapa proposal kegiatan.

Kemudian kami mulai berbicara tentang masalah salah satu wakil kepala sekolah yang sempat berselisih faham dengan seorang guru. Memang beliau dikenal memiliki karakteristik unik, yang mungkin bisa dibilang “Tidak tahu maunya apa”. Semua anak murid takut kepadanya, guru juga enggan bicara dengannya, bahkan wakil-wakil yang lain pun bingung dengan sikapnya. Wakasek tersebut memang sangat disiplin sampai-sampai ‘’apapun’’ yang saya katakan pasti dilakukan (tidak diadaptasi sesuai keadaan). Tapi saya tahu segalak apapun beliau pasti ingin yang terbaik untuk sekolah, muridnya, bahkan teman-temannya. Mungkin banyak hal yang terjadi di masa lalunya sehingga sikapnya seperti itu (dasar anak psikologi). Tapi saya yakin tidak ada seorang guru pun yang punya pikiran jahat kepada anak muridnya bahkan temannya sendiri, hanya saja pola komunikasi yang kurang baik menjadikan beliau tersebut dijauhi oleh anak-anak dan kerabat-kerabatnya.

Inilah pentingnya komunikasi, komunikasi yang baik dapat menghindari judgement, gosip bahkan provokasi. Untuk memperbaiki hal yang mis dalam berkomunikasi kita perlu,

  • Menanyakan secara baik-baik apa maksud dari sikap dan ucapan seseorang, agar tidak timbul kesalahpahaman.
  • Bicarakan secara langsung lebih baik. Hindari memakai perantara.
  • Untuk pimpinan berikan kesempatan individu untuk memberikan penjelasan, fokus kepada hal positif itu lebih baik daripada terus berkutat pada kesalahan individu. Kita juga bisa membentuknya secara perlahan sesuai dengan potensinya.
  • Untuk anak murid, seperti apapun gurumu tetap guru yang harus kita hormati.

So, secerdas dan setinggi apapun jabatan kita, jika tidak didukung dengan komunikasi yang baik, akan merusak seluruh domain kehidupan kita. Selamat ngobrol! 🙂

Posted in Principal Life

Membentuk Tim yang Solid

Heylowww… Ini adalah tulisan pertama saya di blog. Sebenarnya saya pernah mempost tulisan di web sekolah saya, www.smpattahiriyahcakung.com, tapi baru kepikiran bikin blog. Niatnya pengen ngelancarin nulis aja dan berbagi informasi tentang pengalaman selama lima tahun menjadi kepala sekolah. Mohon dimaklum kalau ada penulisan atau tata bahasa yang kurang catchy, karena masih belajar…

Pada tulisan saya terdahulu (bisa diunduh di sini), saya pernah membahas mengenai bagaimana menjadikan sekolah berkualitas, salah satu syaratnya adalah terbentuknya tim managemen yang solid. Membangun sebuah tim yang solid tentu tidak mudah karena menyatukan beberapa pemikiran, ide, bahkan hati. Mengapa hati? Karena membentuk tim yang solid juga perlu membangun chemistry antar individu yang nota bene memiliki sifat, karakter dan kepribadian yang berbeda. Namun inilah tantangannya!

Selama lima tahun ini saya punya catatan penting yang harus dilakukan untuk membangun bahkan mempertahakan tim yang solid di sekolah, check it out!

  1. Pola Komunikasi

Komunikasi adalah ujung tombak kekuatan sebuah tim. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki gaya komunikasi mereka masing – masing. Perbedaan ini kadang membuat penyampaian informasi sering tidak tersampaikan dengan baik, bahkan salah-salah dapat memicu provokasi. Zeram kan? Tim yang solid harus saling mengerti bagaimana pola komunikasi antar anggota tim, terutama pemimpin dari sebuah tim. Tujuannya adalah memudahkan kita untuk mencapai visi bersama.

  1. Mengetahui tipe kepribadian

Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang, individu di dalam sebuah tim perlu mengenal kelebihan dan kelemahan satu sama lain. Oleh karena itu, masing – masing anggota khususnya pemimpin tim harus dapat menyatukan perbedaan. Sebagai ketua atau pemimpin, kita harus bisa mengetahui bagaimana tipe kepribadian dari masing-masing individu. Jika kita mengetahui hal tersebut, kita dapat memberikan mereka tugas yang dapat membuat mereka berkembang dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

  1. Keseimbangan antara tugas dan kesenangan

Tim bukan hanya sekedar mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan secara bersama – sama, memikul beban dan berbagi tugas. Tapi tim juga tempat di mana setiap orang dapat berbagi kebahagiaan dan kesenangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Sesekali adakan rapat santai. Bahas apapun yang terjadi di sekolah namun sambil menikmati makanan yang disediakan, gak usah mewah, gorengan juga sudah senang, lebih baik sih kalau disediain pizza hehe. Hal ini akan memungkinkan untuk mengeluarkan ‘’unek-unek’’ atau masalah-masalah yang tersembunyi, selain itu anggota tim akan mengenal pemimpin lebih baik.
  • Percayai tim. Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan atau mendelegasikan kepemimpinan kepada mereka. Biarkan mereka mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka akan bertanya jika mereka merasa butuh bantuan saja.
  • Berbicara secara personal. Bicaralah, kalau bisa bantu urusan mereka mengenai masalah selain urusan pekerjaan, seperti masalah keluarga, hobbi, atau yang lain. Dengan demikian mereka merasa mendapat atensi yang tulus dari pimpinannya.
  • Sesekali tanyakan saran pada mereka atas suatu masalah yang sulit yang sedang dicari solusinya. Faktanya, seringkali anggota tim memiliki ide bahkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pemimpin. Mereka dapat membantu pemimpin tim dalam mengatasi masalah. Dengan menanyakan saran kepada mereka, akan membuat anggota tim merasa lebih dihargai. Hal ini secara tidak sadar akan meningkatkan kadar kepemimpinan pemimpin dimata mereka. Kita juga bisa belajar banyak dari mereka toh?
  • Berbagi informasi kepada tim. Bisa berbagi informasi mengenai lingkungan, kejadian-kejadian yang terjadi saat itu, artikel yang menarik, berita yang sedang booming dan berita menarik lainnya.
  • Berbagi ilmu atau keahlian. Hal ini selain akan meningkatkan kompetensi anggota tim, juga akan membuat anggota tim merasa bahwa pemimpin mereka tidak sekedar nyuruh-nyuruh saja, namun juga educator bahkan leader mereka. Ini akan membuat mereka lebih loyal kepada kita.
  • Libatkan anggota tim dalam mengambil keputusan yang sulit. Pada saat sulit, tunjukkan bahwa pimpinan mampu mengatasi problem tersebut dan mendapat hasil yang mumpuni. Keterlibatan tim atas proses penyelesaian masalah yang berujung pada hasil, akan membentuk suatu ikatan batin yang luar biasa.
  • Rayakan keberhasilan atas pencapaian target atau keberhasilan melewati masalah bersama-sama dengan anggota tim. Kita bisa mengajak mereka jalan-jalan, mancing, nonton bersama, makan bersama, dan lain-lain.

That’s all! Semoga kita dapat membangun tim yang solid!