Mengenal Gaya Belajar Anak

Beberapa kesempatan saya kerap mendengar peserta didik atau tenaga pendidik merasa terkendala dalam menyampaikan atau mengikuti pelajaran, ini dapat disebabkan faktor eksternal seperti lingkungan yang kurang kondusif, metode yang kurang asik, dan lain-lain, juga faktor internal seperti kondisi fisik yang kurang fit, kelaparan, dan ketidaktahuan anak akan gaya belajarnya masing-masing.

Tidak ada yang baik atau kurang baik, perbedaan gaya belajar hanya menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap anak untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Pastinya, sebelum kita sendiri mengajarkannya pada anak, kita harus tau gaya belajar kita sendiri dong. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat, sebelum melakukan klasifikasi gaya belajar anak. Gaya belajar tertentu juga mempengaruhi prestasi dan kemampuan anak pada bidang tertentu. Misalnya anak dengan gaya belajar visual senang dan pandai dalam matematika, anak dengan gaya belajar auditori pandai dalam bercerita, anak dengan gaya belajar kinestetik pandai dalam olahraga, dan sebagainya. Mengetahui gaya belajar Anda yang efektif sangatlah penting untuk dapat menyelesaikan,  memanage atau mengatur tugas dengan baik.

Menyadur dari teori David Kolb (1984), ada beberapa gaya belajar yang harus kita ketahui, yaitu:

  1. Gaya Belajar Visual

Anak-anak dengan gaya belajar visual biasanya memiliki indera pengelihatan yang tajam dan teliti. Kebanyakan dari mereka sangat menyukai symbol-simbol seperti matematika, bahasa, warna dan hal yang berkaitan dengan bentuk. Ciri ciri gaya belajar visual yaitu:

  • Bisa mengingat dengan lebih cepat dan kuat dengan melihat.
  • Tidak terganggu dengan suara- suara yang berisik.
  • Memiliki hobi membaca.
  • Suka melihat dan mendemonstrasikan sesuatu.
  • Memiliki ingatan yang kuat tentang bentuk, warna, dan pemahaman artistik.
  • Belajar dengan melihat dan mengamati pengajar.
  • Memiliki kemampuan menggambar dan mencatat sesuatu dengan detail.

Ada ciri lain, meskipun tidak mutlak, biasanya anak dengan gaya belajar visual cenderung rapi, suka memperhatikan, teratur, berpakaian indah. Anak dengan gaya belajar visual menyukai percobaan atau peragaan. Metode pembelajaran yang tepat bagi anak visual yaitu dengan mindmap, video ilustrasi, alat tulis berwarna,pembelajaran menggunakan bentuk.

  1. Gaya Belajar Auditori

Anak dengan gaya belajar auditori memiliki indera pendengaran yang lebih baik dan lebih fokus. Anak dengan gaya belajar ini mampu memahami sesuatu lebih baik dengan cara mendengarkan. Hal ini berkaitan dengan proses menghafal, membaca, atau soal cerita. Ciri- ciri gaya belajar auditori yaitu:

  • Memiliki kemampuan mengingat yang baik dari mendengarkan.
  • Tidak mampu berkonsentrasi untuk belajar jika suasananya berisik.
  • Senang mendengarkan cerita atau dibacakan cerita.
  • Suka bercerita dan berdiskusi.
  • Bisa mengulangi informasi yang di dengarnya.

Anak dengan gaya belajar auditori memiliki kendala terhadap penjelasan, maka disarankan untuk memiliki catatan. Anak dengan gaya belajar ini cenderung tidak suka membaca petunjuk, lebih suka langsung bertanya untuk mendapatkan informasi. Kendala gaya belajar ini adalah anak tidak tertarik untuk memperhatikan sekitarnya, kurang cakap dalam mengarang atau menulis, dan cenderung suka berbicara.

Metode belajar yang tepat untuk anak auditori yaitu dengan menggunakan media auditori, musik, berdiskusi, bercerita di depan kelas, dan lainnya. Anak dengan gaya belajar ini biasanya saat menghafal akan membaca keras keras kata- kata yang dihafalnya dan menjadi lebih efektif baginya ketika dicapkan dan dia dengar kembali.

  1. Gaya Belajar Kinestetik

Apabila kita pernah bertanya-tanya, mengapa anak saya di kelas sering jalan-jalan? Tidak bisa diam? Jangan khawatir Bapak-Ibu, bisa jadi anak kita adalah anak dengan gaya belajar kinestetik. Anak dengan gaya belajar ini biasanya lebih mudah menangkap informasi dengan bergerak, oleh karena itu biasanya anak tersebut lebih tertarik dengan olahraga, menari, memainkan musik, percobaan laboratorium, dan lainnya. Ciri gaya belajar kinestetik:

  • Ketika menghafal yaitu dengan cara berjalan atau membuat gerakan- gerakan.
  • Menyukai belajar dengan praktik langsung atau menyentuh secara langsung.
  • Anak yang aktif dan banyak bergerak, memiliki perkembangan otak yang baik.
  • Menggunakan objek nyata sebagai alat bantu.
  • Menyukai aktivitas pembelajaran yang aktif atau permainan.

Anak dengan gaya belajar kinestetik biasanya cenderung bosan dengan gaya pembelajaran konvensional yang hanya duduk diam mendengar atau menulis. Lebih cocok dengan pembelajaran yang melibatkan kerjasama tim, partisipasi aktif siswa, dan kegiatan aktif lainnya. Metode belajar yang bisa diterapkan yaitu dengan menggerakkan tubuh, mengeksplorasi lingkungan dengan berjalan-jalan, bisa dengan bermain peran, drama, praktik skill, menari, memainkan alat musik, dan lainnya.

Sekarang sudah tahu kan Bapak-Ibu mengapa anak kita memiliki perilaku belajar tertentu? Mungkin itu menunjukkan kepada kita tentang gaya belajar mereka. Terimakasih sudah mampir, jika ada tambahan atau saran silahkan tulis di kolom komentar ya. 🙂

Advertisements

Enam Syarat Sukses Belajar Menurut Islam

Hallo Assalamualaikum dear parents!

Anak adalah investasi masa depan. Investasi harta benda mungkin bisa kita wariskan kepada mereka, namun investasi ilmu pengetahuan akan menjadi warisan sekaligus amal yang akan diperhitungkan kelak saat kita tiada.

Kebetulan saya pernah membaca sebuah buku berjudul Ta’limul Mutaállim karangan Syaikh Az-Zarnuji. Di sana dijelaskan beberapa syarat sukses belajar. Selain niat, para Pelajar juga harus memiliki enam hal sebagai modal untuk sukses di masa yang akan datang. Dalam buku tersebut Az-Zarnuji mengutip syair dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib R.A:

اَلا  لاَ  تَناَلُ  اْلعِلْمَ   إِلاَّ  بِسِتَّةٍ      سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكاَءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِباَرٍ وَبُلْغَةٍ      وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi 6 syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci. Yaitu: Kecerdasan,  kemauan/semangat (rakus akan ilmu),  sabar,  biaya/bekal (pengorbanan materi/ waktu), petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama.”

  1. Cerdas

Tiap anak dilahirkan memiliki fitrah (al-Hadits) atau potensi masing-masing (Gardner, 1999). Gardner menyebutkan beberapa macam kecerdasan alamiah (Multiple Intelligent) yang dimiliki anak seperti; kecerdasan logis matematis, kecerdasan linguistic (bahasa), kecerdasan musikal,  kecerdasan spasial (ruang), kecerdasan interpersonal (hubungan dengan orang lain), kecerdasan intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), kecerdasan kinestetik (olah tubuh), Anak kita mungkin memiliki satu dari beberapa macam kecerdasan, atau bisa jadi lebih dari satu.

  1. Rakus akan Ilmu

Rakus, rakus apa yang terbaik? Rakus akan Ilmu. Yup, maksud dari rakus akan ilmu adalah belajar dari mana saja, dari siapa saja, dan mempelajari apa saja untuk mengembangkan potensi diri (anak), orang tua juga harus rakus akan pengetahuan, banyak baca, banyak datang ke pengajian, seminar, pertemuan orang tua, atau pengembangan diri lainnya, tidak lain dan tidak bukan sebagai upaya dalam mencari kelebihan-kelebihan yang dapat kita kembangkan dalam diri (anak) kita sebagai investasi di masa depan.

  1. Sabar

Biasanya kalau sedang belajar pasti ada saja tantangannya *curhat dikit, butuh perjuangan. Bisa jadi ujiannya dari (anak) kita sendiri, dari teman-teman (anak) kita, dari kita sebagai orang tua, atau dari penjuru mana. Oleh karena itu, sabar dalam proses belajar merupakan salah satu kunci keberhasilan (anak) kita, jika berhasil menjalani prosesnya, maka terbentuklah mental (anak) kita ke level selanjutnya.

  1. Biaya

Dalam belajar tentu butuh biaya (bekal). Imam Malik menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu. Seseorang untuk mendapat ilmu harus berkorban waktu, harta bahkan terkadang nyawa. Semakin besar pengorbanan seseorang dalam belajar, semakin banyak biaya yang mereka keluarkan dengan ikhlas, semakin besar juga peluang mereka untuk sukses.

  1. Guru

Salah satu hal yang paling penting dalam belajar adalah petunjuk dari seorang guru, terlebih belajar ilmu agama. Anak kita sangat tidak disarankan belajar agama secara otodidak ya dear parents, karena berbahaya jika salah memahaminya. Dikarenakan begitu pentingnya petunjuk guru, maka arahkan anak kita untuk menghormati dan memuliakan guru. Berikan pemahaman kepadanya bahwa belajar itu bukan hanya mencari ilmu akan tetapi mencari berkat dari guru, semakin banyak kita membahagiakan guru, semakin besar juga peluang kita untuk sukses. Bawa tentengan kecil saat datang ke tempat guru atau hari-hari tertentu, misalnya. Ini bukan berarti kita menyogok guru dengan hadiah, tapi sebagai tanda terimakasih sudah andil dalam mendidik anak kita di sekolah atau tempat belajar.

  1. Waktu yang panjang

Belajar itu butuh proses, butuh waktu, butuh beberapa kali pengulangan, butuh menjalani trial and error, butuh penilaian, butuh kritik dan saran. Seorang sahabat ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

Demikian tulisan saya tentang syarat sukses menuntut ilmu. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada kekurangan karena masih belajar. Jika ada tambahan, kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar ya. Terimakasih

Referensi

Gardner, Howard . 1993. Multiple Intelligences, New York: Basic Books.

Syekh Ibrahim bin Ismail. TT. Syarh Ta’lim al-Muta’llim Tariq al-Ta’allum. Indonesia: Dar Ihya.

Biaya Pendidikan di Sekolah Swasta Mahal? Is it worth?

Sebagai orang tua meski kebutuhan lain buanyak, tapi tetep ya demi pendidikan terbaik kita rela ngerogoh kocek dalam-dalam demi investasi terbesar kita dunia-akherat yaitu anak-anak. Mungkin kita pernah mendengar tetangga, orang tua, keluarga, atau mungkin kita sendiri bertanya-tanya  ‘’Kenapa sih sekolah swasta mahal banget?’’. Saya juga pernah berpikir gitu, hingga akhirnya saya tersadar kemudian tergelitik untuk menulis blog ini.

Cusss dilihat, dibaca, dan diterawang tulisan ini dear parents.

Dulu sekolah adalah ladang pahala (sekarang juga sih), dulu sekolah bukan untuk cari duit, sekarang bisa ya dan bisa tidak, karena sekarang menjadi tenaga pendidik di sekolah merupakan sebuah profesi yang menjanjikan. Tahu gak sih Bapak-Ibu sekalian, tugas utama guru jaman now sudah beralih dari hanya mengajar di kelas menjadi Tersenyum Berseri Sepanjang Hari (TBSH).

Guru tetap harus menerapkan TBSH dalam keadaan APAPUN, demi kenyamanan peserta didik. Yes, kita menitipkan kewarasan dan potensi anak kita kepada mereka. Oleh karena itu mendidik anak untuk waras memerlukan tenaga pendidik yang juga waras, maka gak ada salahnya dong kita membuat mereka bahagia. Walaupun materi bukan sumber kebahagiaan, tapi imbalan yang sesuai juga bisa menambah semangat khaan. Nah bagi guru swasta, imbalan (gaji, reward, kenyamanan tempat dll) bersumber dari sekolah (mungkin berbeda dengan sekolah Negeri yang dibiayai pemerintah), sekolah tidak akan bisa membiayai guru tanpa dana dari kita.

Saya pernah melakukan diskusi kecil-kecilan kepada beberapa kepala sekolah swasta di Jakarta, hasilnya adalah hampir 100% dari mereka kesulitan melakukan perubahan dengan gaji guru yang seadanya dan kebanyakan dari mereka meningkatkan kualitas dengan biaya yang cukup besar (hasil diskusi bisa dilihat di sini). Perubahan ini bukan hanya berkaitan dengan bangunan atau yang bersifat fisik saja, juga berkaitan dengan keseimbangan reward dengan SOP yang telah ditetapkan.

Nah, karena biaya pendidikan yang besar, kita juga butuh timbal balik dong, ya gak Bapak-Ibu? Pastinya kita mau memastikan sekolah yang kita tuju selain memperhatikan tenaga pendidiknya juga memperhatikan anak kita sebagai peserta didik. Untuk itu sekolah yang baik biasanya memenuhi beberapa kriteria di bawah ini:

  1. Mengerti tugas perkembangan anak.

Ini penting banget karena sekolah yang ‘berorientasi’ pada perkembangan anak biasanya dapat menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi dan latar belakang mayoritas peserta didik di sekolah, dimulai dari penetapan waktu belajar mengajar, waktu anak dan guru beristirahat, dan lain sebagainya.

  1. Disiplin

Kita ga bisa memungkiri ya bahwa kedisiplinan ini begitu menjadi momok dalam dunia pendidikan karena biasanya sekolah yang disiplin ingin mempersiapkan anak untuk melaksanakan tanggung jawab dimulai dari hal-hal kecil, maka dari itu sekolah yang bersangkutan biasanya sangat strict dalam hal peraturan dan kegiatan yang meningkatkan kedisiplinan.

  1. Memperhatikan potensi anak.

Sekolah yang baik biasanya ingin memunculkan potensi-potensi anak yang tidak terlihat, bisa jadi anak kita begitu pendiam, begitu ‘aktif’, tanggap dalam hal akademik atau tidak, mudah bersosialisasi atau tidak, dan lain sebagainya. Namun sekolah yang memperhatikan potensi anak biasanya sangat yakin bahwa peserta didik punya kelebihan di bidang masing-masing. Biasanya mereka meiliki beragam kegiatan untuk menggalinya, misalnya ekstrakurikuler, lomba-lomba, atau kegiatan-kegiatan lainnya.

  1. Memiliki keunggulan.

Sekolah yang memikirkan anak biasanya tidak akan membiarkan anak keluar dari sekolah tanpa membawa apapun, setidaknya ada satu keunggulan yang dibawa anak untuk masa depannya, biasanya keunggulan ini berhubungan dengan kompetensi khusus sekolah yang semua peserta didik wajib memilikinya.

  1. Perubahan pola pikir

Salah satu misi penting dalam pendidikan adalah perubahan pola pikir ke arah yang positif minimal dalam satu bidang, sehingga memunculkan perilaku-perilaku yang baik pula. Biasanya tenaga pendidik akan memberikan arahan-arahan yang baik sesuai dengan norma, dan sangat menerapkan prinsip motivasi dan apersepsi pada kegiatan pembelajaran.

  1. Biaya sejalan dengan hospitality

Semakin mahal biaya pendidikan yang dikeluarkan semestinya semakin baik pula pelayanan, kegiatan dan fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Untuk hal ini, Bapak-Ibu bisa hunting atau tanya-tanya dulu untuk menguji kecocokan. Kalau bisa buat perbandingan.

  1. Monitoring yang ketat.

Sekolah yang memikirkan anak biasanya sangat memperhatikan para pendidik dan peserta didiknya, maka tidak heran jika sekolah tersebut sering mengadakan evaluasi, misalnya rapat, pemanggilan orang tua, home visit, dan lain sebagainya.

  1. Melibatkan orang tua, masyarakat dan ahli.

Sekolah juga membutuhkan masukan, kritik dan saran dari nerbagai komponen, dan biasanya mereka sangat terbuka dengan masukan atau program baru yang disarankan oleh orang tua, masyarakat, atau para ahli. Jika ada poin-poin di atas yang belum terpenuhi maka silahkan konsultasikan kepada pihak sekolah, jika respon baik, berarti Bapak-Ibu selama ini memilih sekolah yang tepat.

  1. Jarak dari rumah

Ini saya sadur dari tulisan Kak Seto Mulyadi, tentang perhitungan jarak dengan kondisi anak, untuk menghindari anak lelah di jalan, dan lain sebagainya.

Apakah sekolah Bapak-Ibu memiliki beberapa poin di atas? Jika ya, berarti Bapak-Ibu sudah memilih sekolah yang tepat. Perlu diingat, semakin tinggi kebutuhan di atas sangatlah wajar jika biaya pendidikan anak kita semakin mahal.

Jika ada pertanyaan dan masukan silahkan tulis dikolom komentar ya. Terimakasih. Happy hunting dear parents! (bersambung)

13 Cara agar Guru Berwibawa di Mata Siswa

Kewibawaan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, bahkan dalam Neuro Linguistik Programming ada yang namanya anchor di mana seseorang mempatenkan karakter dirinya di hadapan orang lain (ciri khas). Dengan sikap berwibawa biasanya seseorang akan terlihat lebih dewasa dan penting. Namun, kebanyakan orang keliru dengan menganggap kewibawaan hanya berpredikat kepada atasan, padahal di  mana kita bekerja atau memegang amanah, di situlah kita bisa belajar untuk terlihat penting:

Berikut 13 Tips Meningkatkan Kewibawaan yang harus diketahui, yaitu :

1. Berpakaian Rapih & Profesional

Seorang yang lekat dengan pakaian yang rapih, sopan, bisa memunculkan aura kewibawaan pada dirinya. Perlu Anda ingat, biasaanya dalam benak kita sudah lekat dengan istilah “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja,” dalam dunia profesionalisme lingkup kerja istilah ini tidak berlaku sama sekali. Sejatinya, penampilan memang belum tentu mencerminkan isi hati atau kepribadian, namun di dalam mendidik, Anda merupakan figur, peserta didik Anda akan respect kepada Anda jika penampilan Anda menjelaskannya. Penampilan dihitung dalam penilaian. Ada beberapa tingkatan ekspektasi tinggi saat seseorang melihat penampilan orang lain di tempat kerja. Kita tentu memiliki ekspektasi tinggi terhadap penampilan seorang eksekutif. Berpakaianlah seperti seorang eksekutif jika ingin dipandang seperti mereka.

E842E2DC-DB7E-4EEA-BC83-E1AD0F9BC0BC

2. Kepala adalah asset

Setiap peserta didik atau orang tua biasanya akan memperhatikan kita mulai dari kepala. oleh karena itu, dengan memperhatikan rambut atau jilbab (bagi perempuan yang berjilbab), seorang akan terlihat lebih rapih dan berwibawa. Rambut dan jilbab yang tertata rapi akan selalu membuat Anda terlihat lebih segar dan berpengaruh di mata peserta didik Anda. Khusus bagi kaum wanita, potongan rambut berponi sebaiknya dihindari karena akan membuat wajah Anda kekanak-kanakan dan kurang memperlihatkan sisi kedewasaan Anda, untuk yang menggunakan jilbab perhatikan kerapian, ketepatan warna dan aksesoris, warna dan aksesoris yang terlalu mencolok juga akan membuat Anda terlihat berlebihan. Sementara pria disarankan tidak memanjangkan rambut dan menatanya dengan rapi.

Cucilah wajah Anda dengan sabun agar tidak berminyak bagi pria, bagi wanita sapukan make up sederhana agar wajah terlihat lebih segar.

3. Tidak Bicara Sembarangan

Jika ingin terlihat berwibawa di mata peserta didik, maka Anda harus menguasai ilmu kewibawaan salah satunya adalah “public speaking”. Seorang pemimpin biasanya akan berbicara dengan cara efektif, tepat sasaran, dan tidak bertele-tele. Perlu diketahui, terlalu banyak bicara, bebelit-belit, susah dicerna, penggunaan bahasa daerah yang tidak pada tempatnya, serta latah adalah penyakit dalam berkomunikasi yang harus Anda hindari.

4. Bersikap tegas

Ketegasan bukan berarti menunjukkan amarah atau kekerasan yang mencerminkan tindakan kriminalitas melainkan arti tegas disini berarti menunjukkan sikap diplomatis, santun, dan mampu membuat keputusan dengan segera. Di dalam menangani peserta didik, kecerdasan dalam mengambil sikap amat sangat diperlukan demi kelancaran komunikasi.

5. Rapikan Ruang Kerja Anda

Kebiasaan yang banyak dilupakan oleh kebanyakan guru adalah kurang memperhatikan kerapian di lingkungan kerja mereka. Seberapa sibuk pekerjaan Anda, seberapa lama durasi Anda bekerja, jaga selalu barang-barang Anda agar senantiasa rapi. Meja dan ruang kerja yang berantakan mencerminkan kepribadian pemalas, santai, dan tidak profesional. Hal itulah yang membuat Anda tampak tidak berwibawa di mata peserta didik.

6. Suka Berbagi Ilmu dan Menawarkan Bantuan

Seorang pendidik harus gaulgaul berarti up to date dengan keadaan saat ini. Sampaikanlah cerita kekinian yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Sampaikan dengan bahasa yang lugas dan sopan agar peserta didik merasa tertarik untuk mendengarkan.

7. Mencatat Hal Penting

Mencatat semua hal penting misalnya rencana pembelajaran, hasil observasi harian, dan lain sebagainya merupakan salah satu cara meningkatkan kewibawaan, mengapa? Karena akan sangat membantu Anda untuk mengingat jika ada kejadian-kejadian yang tak terduga sehingga meminimalisir kata ”tidak tahu” di depan peserta didik.

9. Hindari Menjadi Objek Ejekan

Cara meningkatkan kewibawaan yang satu ini memang sulit dipungkiri, dalam satu lingkungan, biasanya ada objek yang dijadikan bahan ejekan dan candaan. Perlu diingat, seorang objek ejekan tentulah seseorang yang dinilai peserta didik punya banyak kelemahan, kurang berwibawa, dan tidak disegani. Hindari menjadi objek candaan dengan melakukan 8 poin di atas.

Yang menjadi catatan disini adalah “Jangan bergurau melebihi batas kewajaran, namun gurauan tetap diperlukan.” Bergurau akan menciptakan suasana santai dan tetap menjaga wibawa Anda jika Anda tidak tertawa terbahak-bahak atau membuat atraksi lelucon yang konyol di hadapan peserta didik.

10. Perlakukan atasan seperti sahabat

Dalam lingkup profesional, biasanya Anda memiliki pimpinan. Jangan pernah sungkan-sungkan untuk berkomunikasi dengan atasan Anda. Baginya Anda adalah orang penting yang sesuai untuk berbincang-bincang dengannya. Bertanyalah kepadanya jika ada pertanyaan tentang peserta didik, diskusikanlah sebuah kejadian, atau berikanlah saran atau masukan, dengan itu Anda tidak akan miskomunikasi dengan atasan di depan peserta didik.

11. Jangan Ungkapkan Masalah Pribadi

Sebagai seorang pendidik kita harus mengomunikasikan perasaan kita kepada peserta didik, namun tidak dengan masalah peribadi. Mengeluh atau mnceritakan urusan peribadi dapat menebarkan energi negatif kepada peserta didik Anda. Anda lebih baik meritakan hal tersebut secara personal dengan seorang teman atau pimpinan dengan persetujuannya.

12. Suka Hidup Bermasyarakat

Berbaur sambil membicarakan hal-hal baru yang ringan dan berbobot sesuai dengan suasana akan memberi kesan bahwa Anda bersahabat dengan mereka. Secara tidak langsung orang lain akan merasa nyaman dan menganggap Anda merupakan bagian dari mereka.

13. Mampu menjadi teladan bagi orang lain

Rosulullah SAW diutus Allah SWT di dunia ini untuk menyempurnakan ahlak dan menjadi suri teladan yang baik bagi manusia. Contoh yang baik dapat memengaruhi kepribadian peserta didik. Hal tersebut akan menunjukkan bahwa Anda menjadi panutan atau orang yang berpengaruh bagi mereka.

Demikian beberapa hal yang dapat meningkatkan kewibawaan. Hayoooo, Anda sudah punya karakter yang mana saja?

 

Ibu Rumah Tangga atau Bekerja?

Hari ini saya mau bagi-bagi kegalauan saya kepada khalayak *galau dibagi-bagi, kalo bagi-bagi takjil sih enak ya he, kegalauan ini merupakan rutinitas tahunan yang harus saya lalui mengingat peran saya sebagai part time worker sekaligus part time mom, karena saya bekerja hanya empat sampai enam jam, setelah di rumah beralih profesi lagi jadi emak berdaster alias menjadi ibu beranak dua.

Saya di bantu oleh dua asisten rumah tangga (kalau beruntung, soalnya baru kemarin mbak yang ngurus si adik pulang kampung), dan sudah kenyang dengan berbagai polemik asisten rumah tangga yang super seru, dari yang sering mengeluh, sering teleponan, sering izin, sampai yang kalau dibilangin ngomonginnya sampe sekelurahan, belum lagi mbak yang saling gak cocok, atau mbaknya mertua gak cocok sama mbak saya (saya tinggal seatap dengan keluarga suami btw), dan polemik lain yang bisa satu bab kalau diceritain. Ditambah jadwal “hangout’’ keluarga suami yang begitu padat, date line-date line kerjaan yang menumpuk, program-program yang harus dievaluasi, kerja tim yang harus difollow up, dan lain sebagainya.

Hal yang paling mendasar adalah perasaan kasihan sama si adik yang sering banget gonta-ganti pengasuh, membuat dia jadi sedikit mistrust sama orang, nemplok terus kayak perangko dan krengki kalau emaknya hilang sebentar. Apalagi belakangan ini perilaku abang mulai gak terarah, mulai agak melawan sama orang-orang rumah. Seringkali saya berkata dalam hati, buat apa sih saya bekerja kalau anak saya gak mendapatkan pengasuhan terbaik? Inilah yang membuat saya bingung untuk memutuskan, apakah saya tetap menjadi part time mom atau ibu rumah tangga sejati.

Namun, di sisi lain ada beberapa hal yang membuat saya masih ingin bekerja, salah satunya adalah waktu saya bekerja sangat fleksibel, dekat dari rumah, dan sudah memiliki orang-orang yang saya percaya dan membuat saya semangat jika berada di sekeliling mereka.  Di samping itu, saya bisa membantu meringankan beban suami terutama dalam hal kebutuhan-kebutuhan sekunder, untuk sekedar beli baju anak, lipen, pelembab, atau pijet, ye khaaan? Selain itu, bekerja juga menjadi ajang me time, saya jadi punya kesempatan menulis seperti ini, bekerja juga cocok untuk saya yang hobi ketemu orang dan ngobrol.

Saya bersyukur dengan pekerjaan dan kehidupan saya saat ini. Suami sangat mendukung saya untuk bekerja. Saya rasa saat ini saya masih memilih untuk bekerja mengingat pekerjaan saya cukup santai, apalagi dibantu dengan tim manajemen yang sangat oke, berbeda dengan tiga tahun yang lalu, saat ini alhamdulillah masih bisa buat sekedar bercanda, mandiin atau nyuapin anak.

Intinya, menjadi IRT maupun working mom itu sama baiknya, selama masih bermanfaat buat keluarga atau orang sekitar.

Buat para suami di luar sana hargailah apapun keputusan istri, karena obat capek istri yang paling utama adalah kupingmu para suami, setidaknya bersabarlah saat istri menceritakan keluhan atau curhatan, atau sekedar candaan yang gak berfaedah, bantu istri mendidik anak, baca-bacalah tentang pola asuh terbaik dan diskusikan dengan istri. Hargailah istri dengan senyum dan ucapan manismu, sesekali istri juga butuh digombalin keleeeeus. Dengan itu, apapun peran istrimu akan dijalani dengan ikhlas dan penuh rasa syukur, insyaAllah akan terbangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah.

________________

Terimakasih udah mampir. kalau ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar ya 😉

Kuesioner SMP Assyairiyah Attahiriyah Award 2018

Assalamualaikum wr wb

Halloo anak-anakku yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng…

Seperti biasa, setiap akhir semester ganji di bulan Desember SMP Assyairiyah Attahiriyah mengadakan kegiatan SMP Attahiriyah Award. Acara ini bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada guru-guru yang selama satu semester ini memberikan perhatiannya kepada anak-anak didiknya di sekolah, juga penghargaan kepada teman-teman yang sudah menjalankan peraturan sekolah dengan baik. Oleh karena itu kita diminta untuk memberikan polling untuk memilih The Best Teacher of the Year dan The Best Student of the Year tahun 2018-2019.

Jadi penasaran kan, kira-kira siapa ya? Siapa tahu kamu salah satu nominasinya. Makanya yuk kita isi kuesioner di bawah ini 😉

Salam sayang,

Anne Rufaidah, S.Psi

IMG_2023.JPG

  1.  Kuesioner Siswa
  2.  Kuesioner Guru

 

Pengalaman Khitan Rafa di Rumah Sunatan

Sebenarnya belum kepikiran sama sekali Rafa khitan secepat ini, maunya sih nunggu dia yg minta. Tapi karena diagnosa dokter Rafa kena fimosis & mengharuskan khitan setelah perawatan antibiotik, akhirnya bunda dan papa ambil langkah terbaik. Dari situ bunda & papa mulai sibuk cari tempat khitan sambil terbengong-bengong kaget, mendadak, secepat ini, ntah gimana bingung menjelaskannya.

Setelah dikasih pengertian abang Rafa harus sunat nanti kalau sudah sembuh, kami juga menjelaskan bahwa proses khitan tidak sakit karena di bius, dan di bius itu rasanya seperti disuntik (agak sakit) seperti digigit semut, alhamdulillah anaknya ngerti. Akhirnya kami ajak Rafa survey tempat sunat & anaknya jatuh hati ke Rumah Sunatan dekat pasar gembrong.

Di situ kita tanya-tanya tentang metode khitan dan tetek bengeknya, alhamdulillah bunda & papa cocok, akhirnya kita minta brosur dan nomer telepon yang bisa dihubungi kalau Rafa jadi khitan di sana. Kami membuat janji dengan dokter dan menetapkan Rafa akan dikhitan pada Rabu tanggal 11 Oktober 2017.

Tepat pada hari H, saya sudah grasak grusuk bersiap-siap buat anter Rafa pagi-pagi, di mobil ntah kenapa bunda ngerasa sedih banget, berasa flash back Rafa bayi, kecil, sampai kemarin bunda marah deelel. Pokoknya sinetron abis (kamu akan tahu rasanya jika saatnya sudah tiba) *tawa nyi blorong 😀

Sampai di tempat parkir (kebetulan parkir di Bassura City) bunda kayak magh akut, perut berasa panas sampai ‘uweeegk uweeegk’ di jalan. Di tempat khitan, Rafa langsung main sambil menunggu giliran (karena di sana kayak ada plyground mini gitu)

Alhamdulillah proses khitan Rafa berjalan lancar dan mulus tanpa ngilu (bunda kalau denger Rafa nangis pasti ngilu ngebayanginnya), ga pake nangis pulak pas proses khitannya, ini cukup membuat hati emak plong pasca kena panic attack tadi pagi. Panic attack bunda hilang setelah Rafa selesai di bius, bunda akhirnya berani nemenin proses khitan sampai selesai

Di rumah, Rafa sempet nangis waktu efek biusnya baru hilang. Bunda mau kasih obat tapi harus makan dulu, daaan anaknya langsung minta pizza *hadeeeh maklumlah yaa raja sunat maunya makan yang keberat-beratan wkwkwk

Setelah makan pizza terus minum obat, aman deh, karena untuk kali ini saya bolehin nonton Bima X di you tube *emak udah bingung gimana mengalihkan rasa sakit dengan cara yang lain, dihipnoterapi sih okenya tapi pasti defense, hipnoterapi ga bakalan ‘mempan’ kalau defense mechanismnya tinggi keeun? (intinya emaknya ga mau ribed) ya kasih ajalah Bima X daripada daripada…..

Akhirnya abang sudah seger dan kita pindahin ke kamar biar lebih nyaman. Drama gak selesai sampai di situ, waktu abang Rafa mau pipis nangis lagi, anaknya katanya takut berdarah haaa PR bunda papa deh buat bujukin yg nangis-nangis sampe selesai pipis. setelah pipis, penis dibersihin pake air bersih, NACl, kemudian tabung dibersihkan menggunakan cotton bud & dikasih obat tetes. Rutinitas perawatan luka tersebut dilakukan setiap selesai buang air.

Ini adalah hari ketiga pasca khitan. Dari hari pertama sebenarnya Rafa sudah bisa beraktifitas seperti biasa, namun masih suka lebai kalau pipis karena takut sakit hihi. Di hari kedua sudah bisa main barong, dan di hari ketiga Rafa sudah bisa naik turun tangga. Sekarang bunda masih menunggu luka kering nih, doakan yaaa….

Terimakasih untuk papa yang sudah gantian nemenin dan bantu bersihin luka khitan Rafa. Sekian curhatan emak yang tidak berfaedah ini, bersambung ke curhatan berikutnya. Mohon sarannya ya atas tulisan saya karena baru mau coba belajar menulis. Untuk ibu dan ayah yang mau khitan anaknya semangat ya, insya Allah dengan kerja sama yang baik semua berjalan dengan lancar 🙂

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑