Posted in Mom Life

Manfaat Travelling bagi Proses Belajar Anak

Kali ini saya akan mengupas tentang learning by travelling. Menurut Nawijn (2012) dari Rotterdam University, ia menemukan hubungan yang signifikan antara travelling dengan subjective well being. Selain hepi-hepi manjyaah a la Syahrini, travelling juga memiliki dampak positif loh bagi proses belajar anak. Nah, apa sih sih manfaat travelling bagi proses belajar anak versi saya?

  1. Menstimulasi perkembangan otak anakPada saat anak belum mulai berbicara, biasanya anak akan menunjuk kepada hal yang ingin ia ketahui, dengan travelling akan membantu kita untuk memperkaya kosa kata mereka tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Pada anak yang lebih besar dan sudah bisa berbicara biasanya ia akan bertanya. Bertanya, ya hal yang simpel, tapi dengan bertanya, anak-anak akan semakin mengerti tentang hal-hal yang terjadi di luar dirinya dan di luar kebiasaannya. Apalagi pada anak prasekolah yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka biasanya akan bertanya tentang keragaman. Contohnya abang Rafa, anak saya yang pertama pernah bertanya, ‘’Bunda, kenapa rambut anak itu putih, kan bukan nenek?’’, atau saat kami jalan-jalan ke Paris, Rafa sempat bertanya ‘’Dia ngomong apa sih, bunda? Itu bukan bahasa Inggris?’’Sambil ngekek dalam hati kita bisa menjelaskan tentang ras dan keragaman budaya di seluruh dunia. Jangan lupa meski kita seringkali tidak mengerti tentang bahasa di suatu daerah atau suatu negara, tapi dengan senyuman semua orang tahu bahwa kita menerima keberadaan mereka. Hal ini juga harus kita tanamkan kepada anak-anak kita bahwa senyuman yang tulus adalah bahasa kebaikan termudah di seluruh dunia.
  1. Menanamkan nilai-nilai agama. Menanamkan nilai-nilai agama gak hanya di pengajian, gak hanya menceritakan ayat-ayat al-Qurán, dan tidak hanya dengan berdoa sebelum dan setelah melakukan sesuatu. Dengan travelling kita juga bisa memasukkan nilai-nilai agama kepada mereka, dengan mengingatkan bahwa Tuhan Maha Hebat bisa menciptakan tempat-tempat yang begitu indah, kita juga bisa menjelaskan tentang perintah dan larangan Tuhan, misalnya, di manapun berada papa dan bunda menjaga sholat lima waktu, buang sampah pada tempatnya, berkata baik, atau kita sebagai seorang Muslim tidak boleh makan daging babi, dan perintah maupun larangan Tuhan lainnya. Penjelasan tentang hal tersebut membuat anak sedikit demi sedikit menyadari tentang pentingnya nilai-nilai agama di dalam hidupnya.

Nyatanya proses belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja kan? Bahkan bisa dengan cara yang sangat menyenangkan. Travelling gak harus mahal kok, kita bisa mendatangi tempat-tempat terdekat dengan kita. Tunggu apa lagi bunda, yuk ajak anak kita travelling 🙂

Posted in Mom Life

Anakku Tantrum, Bahayakah?

Sebagai seorang ibu, kita menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang baik, tapi pernahkah suatu saat anak kita berteriak-teriak atau ngamuk-ngamuk gak jelas? Perilaku tersebut dinamakan tantrum.

Tantrum atau Temper Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional. Ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, marah, dalam beberapa kasus mengarah kepada kekerasan (Watson, dkk, 2010). Sebenarnya tantrum ini perilaku normal bagi anak-anak rentang usia dua belas bulan hingga empat tahun, dan akan berkurang dalam frekuensi waktu tertentu.

Kenapa sih anak tantrum?

Biasanya tantrum digunakan oleh anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka, untuk mendapat perhatian, atau mendapatkan hal yang mereka inginkan. Hal ini seringkali terjadi jika kemampuan verbal anak belum mumpuni. Dalam beberapa kasus, tantrum juga digunakan anak-anak untuk menghindari kegiatan yang tidak mereka inginkan.

Tapi mengapa tantrum juga terjadi pada balita kita yang sudah lancar berbicara?

Anak-anak usia balita yang mulai mengembangkan kemampuan verbalnya mungkin memiliki bahasa yang mumpuni untuk mengekspresikan keinginan mereka, namun mereka belajar bahwa tantrum adalah cara yang efektif untuk mencari simpati kita, atau menunda hal yang tidak mereka inginkan.

Apa yang harus kita lakukan jika anak tantrum?

Jika kita menghadapi anak yang tantrum, kita memiliki beberapa pilihan, di antaranya adalah:

  1. Abaikan perilaku anak.
  2. Meminimalisir perhatian terhadap tantrum dengan mengalihkan kepada hal positif.
  3. Menggunakan prosedur time-out.

Jadi mommies, tantrum itu gak berbahaya kok, tapi ingat, seiring berlalunya usia hingga beranjak remaja, jika tantrum tidak tertangani dengan baik dapat meningkat menjadi perilaku destruktif atau perilaku yang dapat membahayakan.