Blog

Young Living Membership, Smart or Stupid Buyer?

Dahulu saya berniat untuk menjadi member Young Living ini hanya karena tergiur dengan harga oil yang lebih murah, kemudian ada juga niatan menjual kepada teman-teman dengan harga retail, tidak ada niat sama sekali ingin ikut networking dan lainnya. Sekarang banyak sekali oil-oil Young Living yang dipasarkan di situs belanja online dengan harga yang fantastis murahnya, melonjak, bahkan nyungseb dari harga wholesalenya!

young-living-lavender-field-with-logo-1400-x-700-1000x400

So, am I a smart or stupid buyer? Toh saya beli di Virtual Office Indonesia pun harganya jauh lebih mahal daripada yang di situs belanja online. Lebih tercengangnya saya beberapa kali melihat oil-oil tersebut di situs belanja online dengan ulasan yang baik. Jadi ini saya yang bodoh atau member yang menjual murah itu yang manipulative? Mungkin kalian berniat baik ingin membantu masyarakat Indonesia untuk hidup sehat, atau mungkin membantu orang-orang yang mencari harga murah seperti saya?  But, bukankah ada standar wholesale dan retailnya ya? I don’t know! Pertanyaan saya paling mendasar adalah, “Apakah perlu menjadi member Young Living Essential Oil?”. Honestly, saya sangat-sangat kecewa.

 

 

Advertisements

Anak-anak dan Kepribadian

Anak saya adalah dua orang yang berbeda. Anak pertama saya bernama Rafa, sejak bayi terlihat suka menyelidik dan periang, matanya selalu terlihat bersinar dan antusias. Saat balita ia sangat ingin tahu, lari ke sana ke sini, tidak takut dengan apapun, dan menyapa siapapun yang ada di dekatnya, ibarat di hutan pun dia tidak akan sendirian karena akan kembali membawa teman. Di sekolah ia senang bercerita dan mendengarkan cerita teman-temannya, sampai pernah orang tua teman lain bertanya “Rafa hari ini udah laporan belum?”. Karena setiap sampai ke sekolah ia pasti selalu menceritakan apa yang terjadi di rumah kepada gurunya, gak terkecuali kalau habis dimarahin bunda! Huhuu hancurlah reputasi bunda sebagai bunda solehah! Lol! Begitu pula saat pulang sekolah, adaaa aja yang diceritain, dan dalam situasi apapun selalu ngobrol dan ngobrol. Seneng sih tapi kadang lama-lama bikin bunda smaput juga 😀

45987619_10211456276557348_6494446397905960960_n

Berbeda dengan anak kedua saya, Sofia. Ceria, tapi kalau tidak suka dengan sesuatu, tatapannya bisa berubah tajam, setajam silet. Sejak bayi terlihat sering mencoba hal-hal yang ada di sekelilingnya, namun ia tidak terlalu butuh teman dan akan memperhatikan saat bertemu orang atau suasana baru. Saat balita (sekarang usianya tiga tahun), ia sangat serius dalam menyusun lego, dia punya lengan yang kuat, gak mudah nangis, kalau adu bodi sama abangnya malah abang yang nangis. Ia juga sangat realistis, tidak mudah dipengaruhi, tidak juga mudah dialihkan perhatiannya makanyaa kalo udah ngambek… emak lelaaahh serasa mau pingsan on the spot sajahh, kemauannya keras, kalau sudah bicara suka ngritik or ngoreksi alias ngatur 😀

Nah, karena sudah tahu kecenderungan kepribadian mereka, bunda jadi tahu bagaimana cara mengarahkan energi mereka ke arah yang lebih positif, sehingga dapat meminimalisir bad day, meski tidak dapat dipungkiri yang namanya anak kecil pasti ada masa ngambek hihi

Awalnya saya juga kurang sreg dengan pengelompokan kepribadian manusia kalau tujuannya gak jelas, karena termasuk pseudo-science yang gak terukurseperti halnya hypnosis, dan sesungguhnya kepribadian itu dinamis. Khawatir saat mengetahui kecenderungan kepribadian dengan sejumlah traits (ciri)nya malah membuat kita membatasi anak, atau the worst, labelling! Jangan mak jangan! Apakah Anda tega melabel bocil-bocil tak berdosa ini? *drama. Anak-anak masih sangat bisa dibentuk dengan usaha atau stimulus yang tepat. Justru pengelompokan ini seharusnya mempermudah kita memahami anak sehingga tidak mudah memberi label pada mereka, dan next levelnya bisa mengarahkan sejak dini potensi mereka.

Menghindari panasnya kuping mendengar pendapat orang lain tentang “Aduh tu anak kok gak bias diem”, “Anak saya ga pernah ngomong”, atau impresi-impresi lainnya, saya jadi tergerak untuk sedikit mengulas tentang kepribadian yang digambarkan oleh filsuf bernama Claudius Galen (200 SM, udah lama banget ya, tapi makin sini makin keliatan relevansinya dan banyak ilmuwan yang mengembangkan teori beliau). Teori Galen ini mengelompokkan sejumlah traits kepada kecenderungan kepribadian. Oke, kita mulai yuk dear Parents!

Kalau Anda pernah bertanya-tanya “Kenapa ya anak saya aktif banget, ngomong terus, atau suka iseng di sekolah?” Jika ya, jangan khawatir mungkin nanti anak Anda akan menjadi seorang yang berpengaruh. Anak yang memiliki beberapa keunikan tersebut bisa jadi memiliki kecenderungan karakter Sanguinis, yang diantara ciri-cirinya yaitu:

  1. Suka bicara dan bercerita
  2. Ingatan kuat untuk warna, atau gambar
  3. Hangat, menyukai hal-hal fisik. Mereka cenderung suka memeluk, menepuk, dan mungkin iseng.
  4. Mudah dipengaruhi.
  5. Antusias dan ekspresif,
  6. Bergerak, melompat, melambai, dan menggeliat.
  7. Penuh rasa ingin tahu, oleh karenanya mereka mudah berteman karena selalu ada bahan percakapan.
  8. Relawan untuk tugas, karena ingin selalu bisa membantu dan popular, mereka mengajukan diri secara suka rela tanpa memikirkan konsekuensinya.
  9. Memiliki banyak ide alias kreatif
  10. Deal dengan anak sanguinis? Berilah mereka sentuhan dan pujian

Anda memiliki anak yang pendiam, pemikir, dan pemalu? Berbahagialah dear parents, Anda memiliki calon seniman, insinyur, sastrawan, musisi, filosof, budayawan dan bakat-bakat yang begitu mendalam. Mereka adalah anak-anak Melankolis. Diantara ciri-cirinya adalah:

  1. Ingin semuanya teratur, rapi dan sempurna. Mereka biasanya berpakaian rapi bagus dan terawat dengan cermat.
  2. Tatapannya lembut dan penurut
  3. Introvert
  4. Selalu berpikir mendalam saat ingin melakukan sesuatu, alias analitis.
  5. Memiliki teman yang ideal dan itu-itu saja.
  6. Serius dan Tekun,
  7. Jenius-intelek, biasanya anak-anak melankolis sering menitipkan pertanyaan atau jawaban kepada temannya. Mereka lebih suka di belakang layar.
  8. Biasanya mereka mengagumi para jenius, kagum dengan keajaiban alam.
  9. Menyukai daftar, diagram, grafik, bagan, musik (bukan bernyanyi).
  10. Mungkin cenderung perhitungan (karena analitis) dan nyaris tidak pernah membuang apa pun
  11. Perhatian dan belas kasihan yang mendalam.
  12. Deal dengan melankolis? Berilah ia ruang, bicaralah secara personal

Jika Anda pernah mendengar orang lain protes terhadap anak Anda yang suka bossy dan suka mengkritik, mungkin mereka dilahirkan untuk menjadi calon pemimpin, mereka adalah Koleris! Anak-anak seperti ini memiliki ciri-ciri seperti:

  1. Bersuara keras
  2. Suka ngambek jika kemauannya tidak dituruti dengan cara yang realistis
  3. Sangat memerlukan perubahan,
  4. Realistis, gak mudah percaya
  5. Suka mengkoreksi dan mengkritik
  6. Berkemauan kuat dan tegas
  7. Bisa menjalankan apa saja dan suka mengambil alih.
  8. Tidak terlalu butuh teman (sekedarnya saja).
  9. Deal dengan anak koleris? berilah tantangan. Mereka tidak patah semangat oleh kritik atau mundur oleh rasa tidak tertarik. Mereka mengarahkan pandangan ke tujuan.

Nah, jika anak Anda suka ikut-ikut teman, cuek dan rada lamban, jangan khawatir dear parents karena kedamaian dunia ada di tangan Anda! Karena dia selow sangat selow memang selow (lah kok jadi nyanyi). Anda memiliki sang Plegmatis. Cirinya adalah:

  1. Mudah bergaul dan punya banyak teman. Beda dengan sanguinis yang memulai percakapan, plegmatis biasanya menanggapinya dengan baik.
  2. Diam, tenang, dan terkendali.
  3. Sabar dan penurut
  4. Rela berkorban
  5. Menjadi pendengar yang baik
  6. Kata ajaib dari plegmatis adalah “yasudah”
  7. Deal dengan plegmatis? Berikan ia kepercayaan.

Nah, dear Parents, dari gambaran tersebut jelas bahwa setiap anak itu unik. Semua tipe kepribadian anak itu baik bagaimana kita mengarahkannya. So, please stop comparing each other! Mari kita belajar membebaskan anak-anak menjadi dirinya sendiri, bebas dari pikiran-pikiran kita yg sempurna, tentunya pada tetap berpegang norma dan nilai-nilai yang ada. Namun jika anak sudah mengarah kepada perilaku destruktif, konsultasikanlah kepada ahlinya.

Next insyaAllah akan dibahas tentang kepribadian lebih jauh lagi, semoga ya. Kalau ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar. Terimakasih sudah mampir 🙂

Reference:

Littauer, Florence. 1983. Personality Plus (Edisi Terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara

My Second Life, My Adventure!

37766501_1845629449077974_8508296334673969152_n

Sejujurnya ini bukan review tentang Dufan, Floating Market, bukan pula Farm House, tapi review kehidupan kedua saya di sekolah, dan ini adalah beberapa orang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya (mungkin review Dufan, Floating Market, dan Farm House akan menyusul) 😀

Beberapa tahun yang lalu, di bulan ini, tepatnya tanggal 25 Januari 2012, di depan semua jajaran yayasan Addiniyah Attahiriyah saya diberikan amanah untuk mempelajari kembali keadaan, dilantik untuk belajar dalam keterbatasan, belajar dalam ketidaktahuan, belajar bersabar, belajar membangun kembali sebuah harapan, belajar memantaskan diri, belajar mempelajari kesalahan menjadi sebuah ide, belajar dari kritik, saran, dan kejadian-kejadian, kembali belajar untuk mencapai hal lain saat mencapai suatu pencapaian.

Sejak tanggal 13 Juli 2012 hingga kini saya mulai mengerti bahwa saya diberikan tantangan yang besar, harus berusaha merombak ulang semua budaya, trial and error yang terus menerus, ditempa dengan sangat keras, terkaget-kaget, menangis, berpikir, gak bisa tidur, makan makin banyak🤦🏻‍♀️ Beberapa kali berpikir untuk menyerah, tapi saat itu pula selalu ingat satu hal menguatkan saya sampai saat ini, yaitu saya di sini mendapat amanah untuk membantu orang lain, meski tidak pernah terbayang sebelumnya saya dapat berada di sekolah karena dulu saya tidak mau menjadi guru, karena semua keluarga dari Ibu saya adalah guru. Namun sekarang, inilah pekerjaan yang saya cintai, saya bahagia berada di tengah-tengah tawa manusia, di kantor, di kelas, di semua ruangan sekolah, anak-anak yang membuat hari-hariku terasa seru dan berwarna. MasyaAllah, jutaan terimakasih dan doa kpd alm. Ibunda H.S. Suryani Thahir & Babah K.H. Syathiri Ahmad (Lahum Alfaatihah) berkat beliau dg izin Allah terbukalah jalan saya hingga saat ini. Mohon maaf Amih & Babah jika masih belum bisa memberikan yang terbaik. InsyaAllah masih dan akan terus berusaha memberikan yang lebih baik lagi.

Masuk tahun ke-7 saya di sekolah. Mulai dari merangkak, tertatih, berdiri, berlari, terjungkal, hingga kembali bergerak…. tantangan, hambatan, masalah-masalah yang berhubungan dengan sekolah, guru yang datang dan pergi, anak-anak yang memberikan ruang untuk mempelajari karakter mereka dengan “kenakalan” kecil, mungkin sekarang menjadi terbiasa dengan “kepuyengan-kepuyengan” yang tidak HQQ, sampai-sampai saya bosan kalau  “anteng-anteng” saja. Tidak terpikir akan penghargaan selain mencapai pencapaian terbaik, mendidik anak-anak menjadi lebih baik, memberikan pengalaman kepada guru menjadi real pendidik atau role model bagi anak-anak.

Untuk berdiri sendiri di sini, jujur ku tak sanggup, maka sampai saat ini pun saya didampingi suami, di tahun kedua saya didampingi teman sekelas saya saat kuliah menjadi Tim Psikologi Pendidikan, dan setahun terakhir hingga sekarang pun masih didampingi Litbang yang sudah makan asam garam dunia pendidikan, teman-teman Manajemen, teman-teman Guru yang masih mau berjuang bersama hingga sekarang, keluarga dan Papa mertua yang sangat support. Tidak terpikir apa-apa hanya ingin mereka bahagia dan sejahtera. Jika mungkin harus menulis terimakasih, mungkin satu page tidak akan cukup. Saya hanya bisa mendoakan keberkahan dan kebahagiaan untuk beliau semua di lima waktu saya.

whatsapp image 2019-01-11 at 17.13.43  whatsapp image 2019-01-12 at 20.19.54

Proses ini bukan suatu yang mudah from -5 to 5 or hero! Yakin tidak ada yang tidak mungkin dalam perubahan selama ada keihklasan, cinta dan kepedulian terhadap sesama.

*Tulisan ini saya tulis saat sekolah berada dalam gonjang-ganjing. Insya Allah yakin ini tidak akan lama seperti yang sudah-sudah, dan semua akan indah pada waktunya 🙂

 

Kuesioner SMP Assyairiyah Attahiriyah Award 2018

Assalamualaikum wr wb

Semangat pagi Bapak/Ibu guru tercinta, semoga selalu dalam lindungan Allah. Juga buat anak-anak yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, semoga menjadi insan bermanfaat di masa yang akan datang.

Seperti biasa, setiap akhir semester ganji di bulan Desember SMP Assyairiyah Attahiriyah mengadakan kegiatan SMP Attahiriyah Award. Acara ini bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada guru-guru yang selama satu semester ini memberikan perhatiannya kepada anak-anak didik di sekolah, juga penghargaan kepada peserta didik yang sudah menjalankan peraturan sekolah dengan baik.

Kira-kira siapa ya kandidatnya? Siapa tahu kamu salah satu nominasinya. Biar gak penasaran yuk kita isi aja kuesioner di bawah ini 😉

Teriring doa untuk semua,

Tim SMP Attahiriyah Award 2018

whatsapp image 2018-12-03 at 19.37.14

  1.  Kuesioner Siswa
  2.  Kuesioner Guru

 

Review Maybeline Jetsetter Palette

76193E0E-6826-4F05-AB6F-0D6429E2E3C1Ini adalah tulisan review make up pertama saya kayaknya ya. Doyan dandan semenjak hamil anak kedua. Seumur2 ga pernah beli make up kecuali lipstik wardah & produk dissy (jualan sendiri)😆

Tapi mau coba yg ini karena dari dulu nyari yg all in one bisa dibawa kemana2. Temen rekomendasiin ini #jetsetterpalette #maybeline yaudah coba deh beli.

Ternyata gede juga ya tempatnya ga bisa masuk ke dlm pouch serbaguna saya yg seuprit itu, padahal pengennya yang bisa masuk ke tas kondangan secara saya org yg paling males bawa-bawa tas klo gak penting-penting amat acaranya huu yowes klo mau bawa ini harus pake tas atau pouch yg ukuran medium.

Bagian yg paking saya suka adalah palette ini beneran all in one, isinya:

  1. Concealer light. Ini kepake banget sama saya buat bawah mata, secara kantung mata saya sudah kayak kantong semar ya gede banget. Wajib and kudu diconceal kalo kondangan biar gak keliatan kayak bangun tidur. Concealernya menurut saya agak padat ya, jadi dipoles sekali sudah cukup tebel, kekurangannya ini kalau lagi buru-buru sedikit ngeblok di bawah mata.
  2. Concealer medium. Ini jarang dipake karena gak tau fungsinya apa haha. Kadang saya suka pakai buat bikin contour sedikit tulang pipi saya yang gak tau ada tulangnya atau pipi semua ini. Next…
  3. Lip balm nude. Ini juga jarang dipake, baru kemarin saya pakai buat cover lipmatte yang agak kemenoran. Warnanya terlalu pucat, sepertinya ini gak cocok buat kulit saya, atau sayanya yang ga tau kapan harus pakai lip balm ini. Dunno… Next…
  4. Lip balm pink. Ini salah satu favorit saya buat bikin ombre lips a la a la Korea (sok-sokan tau ombre lip haha) biasanya saya padanin sama lip matte fuschia, hasilnya oke banget dan jadi ga kering.
  5. Eyeshadow brush. Menurut saya agak keras jadi gak kepake, akhirnya dimainin sama anak saya buat dandan-dandanan dia. Next…
  6. Powder brush. Ini juga gak kepake, ntah sekarang ada di mana.
  7. Eyeshadow highlighter. Saya suka semua jenis highlighter dalam pallete ini soalnya nyata banget dalam satu kali poles. Super luv!
  8. Eyeshadow base 9. Eye shadow crease 10. Eyeshadow liner. Karena belum tau cara pakai eyeshadow maka saya ga pernah pakai, kecuali eyeshadow liner, dan too powdery, jatuh-jatuh ke pipi, jadi gak pernah saya pake lagi.

33358DEE-5C2D-4E1C-BE49-0FB9BBF40E7D

  1. Blush. Oke sih cuma agak terlalu pink ya, berharap hasil pink soft tapi kenyataannya jadi shocking pink hehe.
  2. Bronzer. Lumayan oke, karena warnanya bold jadi sekali usap sudah tercoverlah ketembeman saya.
  3. Highlighter. On point! Suka banget sama highlighternya! Bikin glowing natural gak ngeblok.
  4. Mini mascara. Ini padahal yang tidak saya harapkan ada, tapi ternyata suka banget sama mascaranya gak ngeblok, ringan dan bikin volume bulu mata jadi lebat.

Hasil make up soft banget kalau di kulit saya nyaris gak keliatan make up, kecuali highlighter yang super On, btw saya suka banget sama highlighternya.

Gimana? Udah mirip Gigi Hadid belum? 💋

 

 

 

Mengenal Gaya Belajar Anak

img_8363Beberapa kesempatan saya kerap mendengar peserta didik atau tenaga pendidik merasa terkendala dalam menyampaikan atau mengikuti pelajaran, ini dapat disebabkan faktor eksternal seperti lingkungan yang kurang kondusif, metode yang kurang asik, dan lain-lain, juga faktor internal seperti kondisi fisik yang kurang fit, kelaparan, dan ketidaktahuan anak akan gaya belajarnya masing-masing.

Tidak ada yang baik atau kurang baik, perbedaan gaya belajar hanya menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap anak untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Pastinya, sebelum kita sendiri mengajarkannya pada anak, kita harus tau gaya belajar kita sendiri dong. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat, sebelum melakukan klasifikasi gaya belajar anak. Gaya belajar tertentu juga mempengaruhi prestasi dan kemampuan anak pada bidang tertentu. Misalnya anak dengan gaya belajar visual senang dan pandai dalam matematika, anak dengan gaya belajar auditori pandai dalam bercerita, anak dengan gaya belajar kinestetik pandai dalam olahraga, dan sebagainya. Mengetahui gaya belajar Anda yang efektif sangatlah penting untuk dapat menyelesaikan,  memanage atau mengatur tugas dengan baik.

Menyadur dari teori David Kolb (1984), ada beberapa gaya belajar yang harus kita ketahui, yaitu:

  1. Gaya Belajar Visual

Anak-anak dengan gaya belajar visual biasanya memiliki indera pengelihatan yang tajam dan teliti. Kebanyakan dari mereka sangat menyukai symbol-simbol seperti matematika, bahasa, warna dan hal yang berkaitan dengan bentuk. Ciri ciri gaya belajar visual yaitu:

  • Bisa mengingat dengan lebih cepat dan kuat dengan melihat.
  • Tidak terganggu dengan suara- suara yang berisik.
  • Memiliki hobi membaca.
  • Suka melihat dan mendemonstrasikan sesuatu.
  • Memiliki ingatan yang kuat tentang bentuk, warna, dan pemahaman artistik.
  • Belajar dengan melihat dan mengamati pengajar.
  • Memiliki kemampuan menggambar dan mencatat sesuatu dengan detail.

Ada ciri lain, meskipun tidak mutlak, biasanya anak dengan gaya belajar visual cenderung rapi, suka memperhatikan, teratur, berpakaian indah. Anak dengan gaya belajar visual menyukai percobaan atau peragaan. Metode pembelajaran yang tepat bagi anak visual yaitu dengan mindmap, video ilustrasi, alat tulis berwarna,pembelajaran menggunakan bentuk.

  1. Gaya Belajar Auditori

Anak dengan gaya belajar auditori memiliki indera pendengaran yang lebih baik dan lebih fokus. Anak dengan gaya belajar ini mampu memahami sesuatu lebih baik dengan cara mendengarkan. Hal ini berkaitan dengan proses menghafal, membaca, atau soal cerita. Ciri- ciri gaya belajar auditori yaitu:

  • Memiliki kemampuan mengingat yang baik dari mendengarkan.
  • Tidak mampu berkonsentrasi untuk belajar jika suasananya berisik.
  • Senang mendengarkan cerita atau dibacakan cerita.
  • Suka bercerita dan berdiskusi.
  • Bisa mengulangi informasi yang di dengarnya.

Anak dengan gaya belajar auditori memiliki kendala terhadap penjelasan, maka disarankan untuk memiliki catatan. Anak dengan gaya belajar ini cenderung tidak suka membaca petunjuk, lebih suka langsung bertanya untuk mendapatkan informasi. Kendala gaya belajar ini adalah anak tidak tertarik untuk memperhatikan sekitarnya, kurang cakap dalam mengarang atau menulis, dan cenderung suka berbicara.

Metode belajar yang tepat untuk anak auditori yaitu dengan menggunakan media auditori, musik, berdiskusi, bercerita di depan kelas, dan lainnya. Anak dengan gaya belajar ini biasanya saat menghafal akan membaca keras keras kata- kata yang dihafalnya dan menjadi lebih efektif baginya ketika dicapkan dan dia dengar kembali.

  1. Gaya Belajar Kinestetik

Apabila kita pernah bertanya-tanya, mengapa anak saya di kelas sering jalan-jalan? Tidak bisa diam? Jangan khawatir Bapak-Ibu, bisa jadi anak kita adalah anak dengan gaya belajar kinestetik. Anak dengan gaya belajar ini biasanya lebih mudah menangkap informasi dengan bergerak, oleh karena itu biasanya anak tersebut lebih tertarik dengan olahraga, menari, memainkan musik, percobaan laboratorium, dan lainnya. Ciri gaya belajar kinestetik:

  • Ketika menghafal yaitu dengan cara berjalan atau membuat gerakan- gerakan.
  • Menyukai belajar dengan praktik langsung atau menyentuh secara langsung.
  • Anak yang aktif dan banyak bergerak, memiliki perkembangan otak yang baik.
  • Menggunakan objek nyata sebagai alat bantu.
  • Menyukai aktivitas pembelajaran yang aktif atau permainan.

Anak dengan gaya belajar kinestetik biasanya cenderung bosan dengan gaya pembelajaran konvensional yang hanya duduk diam mendengar atau menulis. Lebih cocok dengan pembelajaran yang melibatkan kerjasama tim, partisipasi aktif siswa, dan kegiatan aktif lainnya. Metode belajar yang bisa diterapkan yaitu dengan menggerakkan tubuh, mengeksplorasi lingkungan dengan berjalan-jalan, bisa dengan bermain peran, drama, praktik skill, menari, memainkan alat musik, dan lainnya.

Sekarang sudah tahu kan Bapak-Ibu mengapa anak kita memiliki perilaku belajar tertentu? Mungkin itu menunjukkan kepada kita tentang gaya belajar mereka. Terimakasih sudah mampir, jika ada tambahan atau saran silahkan tulis di kolom komentar ya. 🙂

Enam Syarat Sukses Belajar Menurut Islam

Hallo Assalamualaikum dear parents!

Anak adalah investasi masa depan. Investasi harta benda mungkin bisa kita wariskan kepada mereka, namun investasi ilmu pengetahuan akan menjadi warisan sekaligus amal yang akan diperhitungkan kelak saat kita tiada.

Kebetulan saya pernah membaca sebuah buku berjudul Ta’limul Mutaállim karangan Syaikh Az-Zarnuji. Di sana dijelaskan beberapa syarat sukses belajar. Selain niat, para Pelajar juga harus memiliki enam hal sebagai modal untuk sukses di masa yang akan datang. Dalam buku tersebut Az-Zarnuji mengutip syair dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib R.A:

اَلا  لاَ  تَناَلُ  اْلعِلْمَ   إِلاَّ  بِسِتَّةٍ      سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكاَءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِباَرٍ وَبُلْغَةٍ      وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi 6 syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci. Yaitu: Kecerdasan,  kemauan/semangat (rakus akan ilmu),  sabar,  biaya/bekal (pengorbanan materi/ waktu), petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama.”

  1. Cerdas

Tiap anak dilahirkan memiliki fitrah (al-Hadits) atau potensi masing-masing (Gardner, 1999). Gardner menyebutkan beberapa macam kecerdasan alamiah (Multiple Intelligent) yang dimiliki anak seperti; kecerdasan logis matematis, kecerdasan linguistic (bahasa), kecerdasan musikal,  kecerdasan spasial (ruang), kecerdasan interpersonal (hubungan dengan orang lain), kecerdasan intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), kecerdasan kinestetik (olah tubuh), Anak kita mungkin memiliki satu dari beberapa macam kecerdasan, atau bisa jadi lebih dari satu.

  1. Rakus akan Ilmu

Rakus, rakus apa yang terbaik? Rakus akan Ilmu. Yup, maksud dari rakus akan ilmu adalah belajar dari mana saja, dari siapa saja, dan mempelajari apa saja untuk mengembangkan potensi diri (anak), orang tua juga harus rakus akan pengetahuan, banyak baca, banyak datang ke pengajian, seminar, pertemuan orang tua, atau pengembangan diri lainnya, tidak lain dan tidak bukan sebagai upaya dalam mencari kelebihan-kelebihan yang dapat kita kembangkan dalam diri (anak) kita sebagai investasi di masa depan.

  1. Sabar

Biasanya kalau sedang belajar pasti ada saja tantangannya *curhat dikit, butuh perjuangan. Bisa jadi ujiannya dari (anak) kita sendiri, dari teman-teman (anak) kita, dari kita sebagai orang tua, atau dari penjuru mana. Oleh karena itu, sabar dalam proses belajar merupakan salah satu kunci keberhasilan (anak) kita, jika berhasil menjalani prosesnya, maka terbentuklah mental (anak) kita ke level selanjutnya.

  1. Biaya

Dalam belajar tentu butuh biaya (bekal). Imam Malik menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu. Seseorang untuk mendapat ilmu harus berkorban waktu, harta bahkan terkadang nyawa. Semakin besar pengorbanan seseorang dalam belajar, semakin banyak biaya yang mereka keluarkan dengan ikhlas, semakin besar juga peluang mereka untuk sukses.

  1. Guru

Salah satu hal yang paling penting dalam belajar adalah petunjuk dari seorang guru, terlebih belajar ilmu agama. Anak kita sangat tidak disarankan belajar agama secara otodidak ya dear parents, karena berbahaya jika salah memahaminya. Dikarenakan begitu pentingnya petunjuk guru, maka arahkan anak kita untuk menghormati dan memuliakan guru. Berikan pemahaman kepadanya bahwa belajar itu bukan hanya mencari ilmu akan tetapi mencari berkat dari guru, semakin banyak kita membahagiakan guru, semakin besar juga peluang kita untuk sukses. Bawa tentengan kecil saat datang ke tempat guru atau hari-hari tertentu, misalnya. Ini bukan berarti kita menyogok guru dengan hadiah, tapi sebagai tanda terimakasih sudah andil dalam mendidik anak kita di sekolah atau tempat belajar.

  1. Waktu yang panjang

Belajar itu butuh proses, butuh waktu, butuh beberapa kali pengulangan, butuh menjalani trial and error, butuh penilaian, butuh kritik dan saran. Seorang sahabat ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

Demikian tulisan saya tentang syarat sukses menuntut ilmu. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada kekurangan karena masih belajar. Jika ada tambahan, kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar ya. Terimakasih

Referensi

Gardner, Howard . 1993. Multiple Intelligences, New York: Basic Books.

Syekh Ibrahim bin Ismail. TT. Syarh Ta’lim al-Muta’llim Tariq al-Ta’allum. Indonesia: Dar Ihya.

Biaya Pendidikan di Sekolah Swasta Mahal? Is it worth?

img_8845Sebagai orang tua meski kebutuhan lain buanyak, tapi tetep ya demi pendidikan terbaik kita rela ngerogoh kocek dalam-dalam demi investasi terbesar kita dunia-akherat yaitu anak-anak. Mungkin kita pernah mendengar tetangga, orang tua, keluarga, atau mungkin kita sendiri bertanya-tanya  ‘’Kenapa sih sekolah swasta mahal banget?’’. Saya juga pernah berpikir gitu, hingga akhirnya saya tersadar kemudian tergelitik untuk menulis blog ini.

Cusss dilihat, dibaca, dan diterawang tulisan ini dear parents.

Dulu sekolah adalah ladang pahala (sekarang juga sih), dulu sekolah bukan untuk cari duit, sekarang bisa ya dan bisa tidak, karena sekarang menjadi tenaga pendidik di sekolah merupakan sebuah profesi yang menjanjikan. Tahu gak sih Bapak-Ibu sekalian, tugas utama guru jaman now sudah beralih dari hanya mengajar di kelas menjadi Tersenyum Berseri Sepanjang Hari (TBSH).

Guru tetap harus menerapkan TBSH dalam keadaan APAPUN, demi kenyamanan peserta didik. Yes, kita menitipkan kewarasan dan potensi anak kita kepada mereka. Oleh karena itu mendidik anak untuk waras memerlukan tenaga pendidik yang juga waras, maka gak ada salahnya dong kita membuat mereka bahagia. Walaupun materi bukan sumber kebahagiaan, tapi imbalan yang sesuai juga bisa menambah semangat khaan. Nah bagi guru swasta, imbalan (gaji, reward, kenyamanan tempat dll) bersumber dari sekolah (mungkin berbeda dengan sekolah Negeri yang dibiayai pemerintah), sekolah tidak akan bisa membiayai guru tanpa dana dari kita.

img_6260

Saya pernah melakukan diskusi kecil-kecilan kepada beberapa kepala sekolah swasta di Jakarta, hasilnya adalah hampir 100% dari mereka kesulitan melakukan perubahan dengan gaji guru yang seadanya dan kebanyakan dari mereka meningkatkan kualitas dengan biaya yang cukup besar (hasil diskusi bisa dilihat di sini). Perubahan ini bukan hanya berkaitan dengan bangunan atau yang bersifat fisik saja, juga berkaitan dengan keseimbangan reward dengan SOP yang telah ditetapkan.

Nah, karena biaya pendidikan yang besar, kita juga butuh timbal balik dong, ya gak Bapak-Ibu? Pastinya kita mau memastikan sekolah yang kita tuju selain memperhatikan tenaga pendidiknya juga memperhatikan anak kita sebagai peserta didik. Untuk itu sekolah yang baik biasanya memenuhi beberapa kriteria di bawah ini:

  1. Mengerti tugas perkembangan anak.

Ini penting banget karena sekolah yang ‘berorientasi’ pada perkembangan anak biasanya dapat menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi dan latar belakang mayoritas peserta didik di sekolah, dimulai dari penetapan waktu belajar mengajar, waktu anak dan guru beristirahat, dan lain sebagainya.

  1. Disiplin

Kita ga bisa memungkiri ya bahwa kedisiplinan ini begitu menjadi momok dalam dunia pendidikan karena biasanya sekolah yang disiplin ingin mempersiapkan anak untuk melaksanakan tanggung jawab dimulai dari hal-hal kecil, maka dari itu sekolah yang bersangkutan biasanya sangat strict dalam hal peraturan dan kegiatan yang meningkatkan kedisiplinan.

  1. Memperhatikan potensi anak.

Sekolah yang baik biasanya ingin memunculkan potensi-potensi anak yang tidak terlihat, bisa jadi anak kita begitu pendiam, begitu ‘aktif’, tanggap dalam hal akademik atau tidak, mudah bersosialisasi atau tidak, dan lain sebagainya. Namun sekolah yang memperhatikan potensi anak biasanya sangat yakin bahwa peserta didik punya kelebihan di bidang masing-masing. Biasanya mereka meiliki beragam kegiatan untuk menggalinya, misalnya ekstrakurikuler, lomba-lomba, atau kegiatan-kegiatan lainnya.

  1. Memiliki keunggulan.

Sekolah yang memikirkan anak biasanya tidak akan membiarkan anak keluar dari sekolah tanpa membawa apapun, setidaknya ada satu keunggulan yang dibawa anak untuk masa depannya, biasanya keunggulan ini berhubungan dengan kompetensi khusus sekolah yang semua peserta didik wajib memilikinya.

  1. Perubahan pola pikir

Salah satu misi penting dalam pendidikan adalah perubahan pola pikir ke arah yang positif minimal dalam satu bidang, sehingga memunculkan perilaku-perilaku yang baik pula. Biasanya tenaga pendidik akan memberikan arahan-arahan yang baik sesuai dengan norma, dan sangat menerapkan prinsip motivasi dan apersepsi pada kegiatan pembelajaran.

  1. Biaya sejalan dengan hospitality

Semakin mahal biaya pendidikan yang dikeluarkan semestinya semakin baik pula pelayanan, kegiatan dan fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Untuk hal ini, Bapak-Ibu bisa hunting atau tanya-tanya dulu untuk menguji kecocokan. Kalau bisa buat perbandingan.

  1. Monitoring yang ketat.

Sekolah yang memikirkan anak biasanya sangat memperhatikan para pendidik dan peserta didiknya, maka tidak heran jika sekolah tersebut sering mengadakan evaluasi, misalnya rapat, pemanggilan orang tua, home visit, dan lain sebagainya.

  1. Melibatkan orang tua, masyarakat dan ahli.

Sekolah juga membutuhkan masukan, kritik dan saran dari nerbagai komponen, dan biasanya mereka sangat terbuka dengan masukan atau program baru yang disarankan oleh orang tua, masyarakat, atau para ahli. Jika ada poin-poin di atas yang belum terpenuhi maka silahkan konsultasikan kepada pihak sekolah, jika respon baik, berarti Bapak-Ibu selama ini memilih sekolah yang tepat.

  1. Jarak dari rumah

Ini saya sadur dari tulisan Kak Seto Mulyadi, tentang perhitungan jarak dengan kondisi anak, untuk menghindari anak lelah di jalan, dan lain sebagainya.

Apakah sekolah Bapak-Ibu memiliki beberapa poin di atas? Jika ya, berarti Bapak-Ibu sudah memilih sekolah yang tepat. Perlu diingat, semakin tinggi kebutuhan di atas sangatlah wajar jika biaya pendidikan anak kita semakin mahal.

Jika ada pertanyaan dan masukan silahkan tulis dikolom komentar ya. Terimakasih. Happy hunting dear parents! (bersambung)

13 Cara agar Guru Berwibawa di Mata Siswa

Kewibawaan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, bahkan dalam Neuro Linguistik Programming ada yang namanya Anchor di mana seseorang mempatenkan karakter dirinya di hadapan orang lain (ciri khas). Dengan sikap berwibawa biasanya seseorang akan terlihat lebih dewasa dan penting. Namun, kebanyakan orang keliru dengan menganggap kewibawaan hanya berpredikat kepada atasan, padahal di  mana kita bekerja atau memegang amanah, di situlah kita bisa belajar untuk terlihat penting:

Berikut 13 Tips Meningkatkan Kewibawaan yang harus diketahui, yaitu :

1. Berpakaian Rapih & Profesional

Seorang yang lekat dengan pakaian yang rapih, sopan, bisa memunculkan aura kewibawaan pada dirinya. Perlu Anda ingat, biasaanya dalam benak kita sudah lekat dengan istilah “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja,” dalam dunia profesionalisme dan lingkup kerja, istilah ini tidak berlaku sama sekali. Sejatinya, penampilan memang belum tentu mencerminkan isi hati atau kepribadian, namun di dalam mendidik, Anda merupakan figur, peserta didik Anda akan respect kepada Anda jika penampilan Anda menjelaskannya. Ada kesan yang baik saat seseorang melihat penampilan orang lain di tempat kerja. Kita tentu memiliki ekspektasi tinggi terhadap penampilan seorang eksekutif. Berpakaianlah seperti seorang eksekutif jika ingin dipandang seperti mereka.

E842E2DC-DB7E-4EEA-BC83-E1AD0F9BC0BC

2. Kepala adalah asset

Setiap peserta didik atau orang tua biasanya akan memperhatikan kita mulai dari kepala. oleh karena itu, dengan memperhatikan rambut atau jilbab (bagi perempuan yang berjilbab), seorang akan terlihat lebih rapih dan berwibawa. Rambut dan jilbab yang tertata rapi akan selalu membuat Anda terlihat lebih segar dan berpengaruh di mata peserta didik Anda. Khusus bagi kaum wanita, potongan rambut berponi sebaiknya dihindari karena akan membuat wajah Anda kekanak-kanakan dan kurang memperlihatkan sisi kedewasaan Anda, untuk yang menggunakan jilbab perhatikan kerapian, ketepatan warna dan aksesoris, warna dan aksesoris yang terlalu mencolok juga akan membuat Anda terlihat berlebihan. Sementara pria disarankan tidak memanjangkan rambut dan menatanya dengan rapi.

Cucilah wajah Anda dengan sabun agar tidak berminyak bagi pria, bagi wanita sapukan make up sederhana agar wajah terlihat lebih segar.

3. Tidak Bicara Sembarangan

Jika ingin terlihat berwibawa di mata peserta didik, maka Anda harus menguasai ilmu kewibawaan salah satunya adalah “public speaking”. Seorang pemimpin biasanya akan berbicara dengan cara efektif, tepat sasaran, dan tidak bertele-tele. Perlu diketahui, terlalu banyak bicara, bebelit-belit, susah dicerna, penggunaan bahasa daerah yang tidak pada tempatnya, penggunaan kata yang kasar apalagi kotor, serta latah adalah penyakit dalam berkomunikasi yang harus Anda hindari.

4. Bersikap tegas

Ketegasan bukan berarti menunjukkan amarah atau kekerasan yang mencerminkan tindakan kriminalitas melainkan arti tegas disini berarti menunjukkan sikap diplomatis, santun, dan mampu membuat keputusan dengan segera. Di dalam menangani peserta didik, kecerdasan dalam mengambil sikap amat sangat diperlukan demi kelancaran komunikasi.

5. Rapikan Ruang Kerja Anda

Kebiasaan yang banyak dilupakan oleh kebanyakan guru adalah kurang memperhatikan kerapian di lingkungan kerja mereka. Seberapa sibuk pekerjaan Anda, seberapa lama durasi Anda bekerja, jaga selalu barang-barang Anda agar senantiasa rapi. Meja dan ruang kerja yang berantakan mencerminkan kepribadian pemalas, santai, dan tidak profesional. Hal itulah yang membuat Anda tampak tidak berwibawa di mata peserta didik.

6. Suka Berbagi Ilmu dan Menawarkan Bantuan

Seorang pendidik harus gaulgaul berarti up to date dengan keadaan saat ini. Sampaikanlah cerita kekinian yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Sampaikan dengan bahasa yang lugas dan sopan agar peserta didik merasa tertarik untuk mendengarkan.

7. Mencatat Hal Penting

Mencatat semua hal penting misalnya rencana pembelajaran, hasil observasi harian, dan lain sebagainya merupakan salah satu cara meningkatkan kewibawaan, mengapa? Karena akan sangat membantu Anda untuk mengingat jika ada kejadian-kejadian yang tak terduga sehingga meminimalisir kata ”tidak tahu” di depan peserta didik.

9. Hindari Menjadi Objek Ejekan

Cara meningkatkan kewibawaan yang satu ini memang sulit dipungkiri, dalam satu lingkungan, biasanya ada objek yang dijadikan bahan ejekan dan candaan. Perlu diingat, seorang objek ejekan tentulah seseorang yang dinilai peserta didik punya banyak kelemahan, kurang berwibawa, dan tidak disegani. Hindari menjadi objek candaan dengan melakukan 8 poin di atas.

Yang menjadi catatan disini adalah “Jangan bergurau melebihi batas kewajaran, namun gurauan tetap diperlukan.” Bergurau akan menciptakan suasana santai dan tetap menjaga wibawa Anda jika Anda tidak tertawa terbahak-bahak atau membuat atraksi lelucon yang konyol di hadapan peserta didik.

10. Perlakukan atasan seperti sahabat

Dalam lingkup profesional, biasanya Anda memiliki pimpinan. Jangan pernah sungkan-sungkan untuk berkomunikasi dengan atasan Anda. Baginya Anda adalah orang penting yang sesuai untuk berbincang-bincang dengannya. Bertanyalah kepadanya jika ada pertanyaan tentang peserta didik, diskusikanlah sebuah kejadian, atau berikanlah saran atau masukan, dengan itu Anda tidak akan miskomunikasi dengan atasan di depan peserta didik.

11. Hindari Mengukapkan Masalah Pribadi

Sebagai seorang pendidik kita harus mengomunikasikan perasaan kita kepada peserta didik, namun tidak dengan masalah peribadi. Mengeluh atau mnceritakan urusan peribadi dapat menebarkan energi negatif kepada peserta didik Anda. Anda lebih baik meritakan hal tersebut secara personal dengan seorang teman atau pimpinan dengan persetujuannya.

12. Suka Hidup Bermasyarakat

Berbaur sambil membicarakan hal-hal baru yang ringan dan berbobot sesuai dengan suasana akan memberi kesan bahwa Anda bersahabat dengan mereka. Secara tidak langsung orang lain akan merasa nyaman dan menganggap Anda merupakan bagian dari mereka.

13. Mampu menjadi teladan bagi orang lain

Rosulullah SAW diutus Allah SWT di dunia ini untuk menyempurnakan ahlak dan menjadi suri teladan yang baik bagi manusia (Q.S. Al-Ahzab). Contoh yang baik dapat memengaruhi kepribadian peserta didik. Hal tersebut akan menunjukkan bahwa Anda menjadi panutan atau orang yang berpengaruh bagi mereka.

Demikian beberapa hal yang dapat meningkatkan kewibawaan. Hayoooo, Anda sudah punya karakter yang mana saja?

Reference:

 

  1. Wiley, J & Son. 2010. Neuro-linguistic Programming For Dummies: 2nd Edition. England: Wiley Pub.
  2. Terjemahan al-Qur’an

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑