Posted in Principal Life

Mengingat Kembali Macam-macam Metode Pembelajaran

Di era globalisasi seperti sekarang ini diharapkan anak-anak kita dapat mencari informasi bukan disuapi informasi, apalagi rentang fokus anak usia 6 sampai 13 tahun hanya sekitar 20 sampai 30 menit. Bayangkan jika waktu 1 jam kita gunakan untuk ceramah dan menyalin papan tulis? Soooo bored pastinya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan metode ceramah, tapi sebaiknya  kita menggunakan metode yang bervariasi agar proses pembelajaran terasa asik dan menyenangkan.

Jika anak-anak kita merasakan suasana kelas yang menyenangkan, bukan tidak mungkin tujuan dari pembelajaran yang sudah kita tetapkan di awal akan tercapai dengan baik dan dan tercipta pengalaman-pengalaman yang menarik. Pengalaman inilah yang akan diingat oleh anak sepanjang kehidupan mereka.

Ada sekitar empat puluh metode pembelajaran yang bisa kita gunakan, tapi di bawah ini saya tulis yang sering digunakan:

  1. Example non example dan Picture non Picture (Sebenarnya ini dua metode yang berbeda, cuma saya gak mau nulis ulang). Metode ini menggunakan contoh-contoh (example) dan media gambar (picture) dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong anak-anak kita untuk belajar berfikir kritis dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada dalam contoh-contoh atau gambar-gambar yang disajikan.
  2. Numbered heads together. Metode ini biasanya diawali dengan membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok membaca, memahami, dan mendiskusikan pertanyaan yang diberikan. Kemudian masing-masing kelompok mempresentasikan di depan.
  3. Script. Metode belajar dimana anak-anak bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari bersama.
  4. Student teams- achievement divisions (stad). Metode pembelajaran ini menekankan pada direct reinforcement, di mana guru memberikan nilai secara langsung dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya guru menetapkan range nilai masing-masing untuk menentukan predikat. Kemudian mengumumkan predikat tersebut di depan kelas, bisa di bacakan atau dipampang dengan proyektor.
  5. Jigsaw. Metode pembelajaran ini biasa dikenal dengan peer educator, di mana guru menunjuk beberapa anak yang mendapat nilai tinggi dalam mata pelajaran tersebut sebagai tim ahli, kemudian membagi tim ahli ke dalam beberapa kelompok.
  6. Problem based introduction (Pembelajaran Berdasarkan Masalah). Metode ini dilakukan dengan mengupas masalah-masalah di lingkungan yang sesuai dengan materi pembelajaran, kemudian membuat laporan dari pembahasan tersebut. Di dalam penggunaan metode ini semua yang akan dibahas diserahkan kepada siswa, sedangkan guru sebagai fasilitator hanya memberi frame sesuai materi yang dipelajari.
  7. Mind mapping. Saya biasa mengatakan ini metode menulis modern, karena dalam metode ini anak-anak tidak menulis apa yang ada di papan tulis maupun di buku, melainkan mereka menulis dengan bahasa mereka sendiri atau menggunakan diagram, warna, atau grafik yang mereka fahami. Metode mind map ini disebut juga metode menulis kreatif.
  8. Make – a match. Metode ini dapat menggunakan kartu, atau alat pembelajaran apapun, di mana kartu pertanyaan dan kartu jawaban di pegang oleh orang yang berbeda, kemudian, anak yang memegang kartu pertanyaan membacakan dan anak yang memegang jawaban menghampiri pertanyaan tersebut.
  9. Think pair and share. Metode ini juga menggunakan diskusi berpasangan dalam jangka waktu tertentu, kemudian dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran.
  10. Debate. Ini adalah metode yang paling seru karena masing-masing anak harus memiliki pengetahuan yang banyak tentang apa yang akan dibahas, maka guru sebagai fasilitator sebaiknya memberikan tugas membaca literatur yang berhubungan dengan materi terlebih dahulu di rumah. Ini bisa dilakukan individual maupun kelompok. Kemudian pada akhirnya anak menyerahkan laporan tentang kesimpulan.
  11. Role playing. Metode ini digunakan melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
  12. Group investigation. Dalam GI biasanya anak dibagi ke dalam beberapa kelompok tergantung minat mereka terhadap semua masalah, kemudian melakukan investigasi terhadap masalah yang mereka hadapi. Metode pembelajaran seperti ini memerlukan analisis dan sintesis yang tinggi, maka metode ini lebih banyak digunakan dalam setting perguruan tinggi.
  13. Snowball throwing. model pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung kemudian dilemparkan secara bergiliran kepada anggota kelompok.
  14. Student facilitator and explaining. Metode pembelajaran di mana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapatnya sendiri.
  15. Demonstration dan eksperimen. ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunaka peragaan yang di tujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua sisiwa lebih mudah dalam memahami dan mempraktekan dari apa yang telah di perolehnya.
  16. Explisit instruction (Pengajaran Langsung). merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan langkah demi langkahnya.
  17. Cooperative integrated reading and composition. merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran Bahasa dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping.
  18. Word square. Metode ini pengembangan dari metode ceramah, di mana guru menjelaskan kemudian memberikan lembar tugas yang harus dijawab menggunakan teka-teki silang.
  19. Scramble. Hampir sama dengan word square bedanya adalah dengan mengacak huruf yang ada.
  20. Concept sentences. salah satu teknik dari cooperative Learning,dimana anak belajar dengan kelompoknya untuk membuat beberapa kalimat sesuai dengan kata kunci yang telah diberikan oleh guru.
  21. Complette sentence (Melengkapi paragraf).
  22. Pembelajaran otentik. Dalam metode ini, anak dapat menceritakan pengalaman atau mengajukan pertanyaan yang terintegrasi dengan mata pelajaran.
  23. Inquiry. Metode ini melibatkan kemampuan anak secara maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
  24. Berbasis proyek dan tugas. Metode ini menggunakan lingkungan belajar siswa yang didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap hal-hal yang akan diamati yang pada akhirnya menghasilkan sebuah produk atau pengetahuan baru.
  25. Pembelajaran berbasis jasa dan layanan (service learning). Metode ini menggabungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, atau sebaliknya.

Sekian dulu, karena tangan saya sudah mulai keriting. Silahkan beri masukan atau tambahan di kolom komentar. Mengenai metode pembelajaran, selengkapnya bisa dilihat di sini. Metode mana yang menurutmu menarik? Selamat mencoba!

Advertisements

Author:

I am a lucky mother of Rafa and Sofia Alfarabi and lucky wife of Mr. Alfarabi who interest in childhood and adolescent world. I was studied Psychology and currently working in SMP Attahiriyah Cakung as Principal and Education Practitioner.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s