Posted in Mom Life

Mengatasi Tantrum pada Anak

Sebagai seorang ibu, kita menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang baik, tapi pernah gak sih suatu saat anak kita berteriak-teriak atau ngamuk-ngamuk gak jelas? Padahal mungkin kita  mengajarkan hal-hal yang baik kepada mereka? Perilaku tersebut dinamakan tantrum.

Suatu ketika anak kedua saya tantrum, guling-guling di restoran sebuah pusat perbelanjaan. Saya hanya melihat dan menunggunya sambil minum, sesekali saya menawarkan minum untuknya, dan berkata: ‘’Gapapa kalau mau nangis, nanti kalau sudah selesai bunda di sini ya”, sedang suami saya sibuk mengurus kakaknya yang abrak-ubruk ke sana kemari, sambil tersenyum ke arah saya menandakan ia mengerti dengan apa yang saya lakukan. Saat itu anak saya sampai ‘’dipungut’’ oleh cleaning service, saya cuma tersenyum dan bilang terimakasih. Orang yang lalu lalang di sekitar saya juga terlihat berbisik seolah menyindir, nyinyir, berbicara sok tahu: “Itu anak diapain kek biar diem..”, “Duh kasian, mau apa sih tu anak? Diturutin dong, kok dibiarin gitu sih…”, “Kejam nih orang, anaknya dibiarin gitu..”, ada juga yang ngomong ke anaknya yang kecil ‘’Ih liat tuh, huuu malu deh…’’, atau ada yang mengikuti anak saya nangis ‘’huuuu huuu…’’ (rasanya pengen gue serampang pake tatakan gelas), dan semacamnya. Tapi saya berusaha tetap tenang, sambil menunggu tangisnya mereda dan menghampiri dengan sendirinya.

Mengapa anak tantrum?

Biasanya tantrum digunakan oleh anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka, untuk mendapat perhatian, atau mendapatkan hal yang mereka inginkan. Hal ini seringkali terjadi jika kemampuan verbal anak belum mumpuni. Dalam beberapa kasus, tantrum juga digunakan anak-anak untuk menghindari kegiatan yang tidak mereka inginkan (Watson, dkk, 2010). Sebenarnya tantrum ini perilaku normal bagi anak-anak rentang usia dua belas bulan hingga empat tahun, karena emosi mereka sudah mulai berkembang namun perkembangan bahasa belum mumpuni, dan akan berkurang dalam frekuensi waktu tertentu.

Apa yang sebaiknya kita lakukan saat anak-anak tantrum?

  • Mengabaikan perilaku anak (ignore, Martin & Pear, 2003).

Perilaku tantrum mungkin membuat kita gak nyaman, apalagi ditambah mendengar ocehan orang lain yang bikin kuping panas. Toh hidup ini bukan buat menyenangkan orang lain, apalagi mendengar nyinyiran mereka. Kita tidak mau membiasakan anak kita menggunakan tantrum sebagai alat meminta, karena saat itu anak sedang belajar mengendalikan diri, agar dia mampu mengelola emosi.

  • Tunjukkan ekspresi yang wajar

Anak mengikuti orang tua, tidak terkecuali juga saat tantrum. Ibu atau ayah yang ikut tantrum malah akan memperparah keadaan. Sebisa mungkin hindari mengancam, menakut-nakuti, menjanjikan, atau menuruti kemauannya. Karena hal tersebut  tidak akan menyelesaikan masalah. Kita hanya ingin mengajarkan tidak semua yang diinginkannya di dunia bisa terpenuhi, bukan?  Mengancam, dan melakukan hal yang mengekang lainnya hanya akan menimbulkan perilaku destruktif di masa yang akan datang. Jadi tunjukkan ekspresi datar meskipun malu,

  • Tetap lakukan di bawah pengawasan

Jika sedang melakukan prosedur ignore, jangan meninggalkan anak dalam keadaan mengamuk. Tetap awasi hingga anak menghampiri kita dengan sendirinya setelah tangisnya reda. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk hal ini. Di sinilah kita sebagai orang tua juga belajar sabar, setelah sekiranya semua oke, barulah kita tebak perasaannya, dan menjelaskan apa yang sudah kita lakukan. Jangan lupa mintalah maaf kepada orang sekitar jika telah selesai, atau boleh juga pergi dengan cueknya *emak-emak atau bapak-bapak mah bebas xD

  • Berikan penguatan positif setelah perilaku teratasi

Biasanya setelah selesai tantrum anak akan menghampiri kita dengan sendirinya. Berikan pelukan atau cium dan jelaskan bahwa bunda suka dengan anak yang berbicara baik saat meminta, tanyakan kepada mereka tentang penilaian mereka sendiri terhadap perilakunya. Jika mereka menganggap itu tidak baik lanjutkan dengan penjelasan bahwa guling-guling di keramaian tidak akan merubah ayah atau bunda untuk memberikan apa yang mereka inginkan.

  • Buat kesepakatan 

Setelah diberikan penguatan positif tentang perilaku anak, baiknya ayah dan bunda membuat kesepakatan-kesepakatan bersama anak dan lakukanlah kesepakatan tersebut secara konsisten dan kalau bisa (kalau bisa nih yaaaaa) sosialisasikan kesepakatan tersebut kepada semua orang yang sering berhubungan dengan anak, tujuannya sih biar gak ribed jelasin terus hehe. Ayah atau bunda juga bisa dengan menerapkan prinsip token echonomy (Martin & Pear, 2003) di rumah.

Tantrum ga bahaya kok bunda, tapi jika seiring waktu intensitasnya tidak berkurang dan malah timbul perilaku destruktif (menyakiti diri sendiri atau orang lain secara verbal maupun fisik) Ayah atau Bunda bisa membawanya ke psikolog anak terdekat 😉

Setuju banget sih kalau ada pepatah yang bilang ‘’Butuh seluruh desa untuk membentuk perilaku anak’’. Daaaaaan untuk kita semua, jika kita gak bisa membantu orang lain untuk mengatasi masalah, setidaknya berikanlah support terbaik, atau jika tidak mampu juga maka pertolongan terbaikmu adalah diam.

Hugs and kisses

 

Advertisements

Author:

Lucky mother of Rafa and Sofia Alfarabi Lucky wife of Mr. Alfarabi Interested in learning culture, getting involved in a volunteering activity, parenting, and children empowerment. Studied Psychology Education and Developmental Psychology Practitioner.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s