Posted in Principal Life

Mengingat Kembali Macam-macam Metode Pembelajaran

Di era globalisasi seperti sekarang ini diharapkan anak-anak kita dapat mencari informasi bukan disuapi informasi, apalagi rentang fokus anak usia 6 sampai 13 tahun hanya sekitar 20 sampai 30 menit. Bayangkan jika waktu 1 jam kita gunakan untuk ceramah dan menyalin papan tulis? Soooo bored pastinya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan metode ceramah, tapi sebaiknya  kita menggunakan metode yang bervariasi agar proses pembelajaran terasa asik dan menyenangkan.

Jika anak-anak kita merasakan suasana kelas yang menyenangkan, bukan tidak mungkin tujuan dari pembelajaran yang sudah kita tetapkan di awal akan tercapai dengan baik dan dan tercipta pengalaman-pengalaman yang menarik. Pengalaman inilah yang akan diingat oleh anak sepanjang kehidupan mereka.

Ada sekitar empat puluh metode pembelajaran yang bisa kita gunakan, tapi di bawah ini saya tulis yang sering digunakan:

  1. Example non example dan Picture non Picture (Sebenarnya ini dua metode yang berbeda, cuma saya gak mau nulis ulang). Metode ini menggunakan contoh-contoh (example) dan media gambar (picture) dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong anak-anak kita untuk belajar berfikir kritis dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada dalam contoh-contoh atau gambar-gambar yang disajikan.
  2. Numbered heads together. Metode ini biasanya diawali dengan membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok membaca, memahami, dan mendiskusikan pertanyaan yang diberikan. Kemudian masing-masing kelompok mempresentasikan di depan.
  3. Script. Metode belajar dimana anak-anak bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari bersama.
  4. Student teams- achievement divisions (stad). Metode pembelajaran ini menekankan pada direct reinforcement, di mana guru memberikan nilai secara langsung dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya guru menetapkan range nilai masing-masing untuk menentukan predikat. Kemudian mengumumkan predikat tersebut di depan kelas, bisa di bacakan atau dipampang dengan proyektor.
  5. Jigsaw. Metode pembelajaran ini biasa dikenal dengan peer educator, di mana guru menunjuk beberapa anak yang mendapat nilai tinggi dalam mata pelajaran tersebut sebagai tim ahli, kemudian membagi tim ahli ke dalam beberapa kelompok.
  6. Problem based introduction (Pembelajaran Berdasarkan Masalah). Metode ini dilakukan dengan mengupas masalah-masalah di lingkungan yang sesuai dengan materi pembelajaran, kemudian membuat laporan dari pembahasan tersebut. Di dalam penggunaan metode ini semua yang akan dibahas diserahkan kepada siswa, sedangkan guru sebagai fasilitator hanya memberi frame sesuai materi yang dipelajari.
  7. Mind mapping. Saya biasa mengatakan ini metode menulis modern, karena dalam metode ini anak-anak tidak menulis apa yang ada di papan tulis maupun di buku, melainkan mereka menulis dengan bahasa mereka sendiri atau menggunakan diagram, warna, atau grafik yang mereka fahami. Metode mind map ini disebut juga metode menulis kreatif.
  8. Make – a match. Metode ini dapat menggunakan kartu, atau alat pembelajaran apapun, di mana kartu pertanyaan dan kartu jawaban di pegang oleh orang yang berbeda, kemudian, anak yang memegang kartu pertanyaan membacakan dan anak yang memegang jawaban menghampiri pertanyaan tersebut.
  9. Think pair and share. Metode ini juga menggunakan diskusi berpasangan dalam jangka waktu tertentu, kemudian dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran.
  10. Debate. Ini adalah metode yang paling seru karena masing-masing anak harus memiliki pengetahuan yang banyak tentang apa yang akan dibahas, maka guru sebagai fasilitator sebaiknya memberikan tugas membaca literatur yang berhubungan dengan materi terlebih dahulu di rumah. Ini bisa dilakukan individual maupun kelompok. Kemudian pada akhirnya anak menyerahkan laporan tentang kesimpulan.
  11. Role playing. Metode ini digunakan melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
  12. Group investigation. Dalam GI biasanya anak dibagi ke dalam beberapa kelompok tergantung minat mereka terhadap semua masalah, kemudian melakukan investigasi terhadap masalah yang mereka hadapi. Metode pembelajaran seperti ini memerlukan analisis dan sintesis yang tinggi, maka metode ini lebih banyak digunakan dalam setting perguruan tinggi.
  13. Snowball throwing. model pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung kemudian dilemparkan secara bergiliran kepada anggota kelompok.
  14. Student facilitator and explaining. Metode pembelajaran di mana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapatnya sendiri.
  15. Demonstration dan eksperimen. ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunaka peragaan yang di tujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua sisiwa lebih mudah dalam memahami dan mempraktekan dari apa yang telah di perolehnya.
  16. Explisit instruction (Pengajaran Langsung). merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan langkah demi langkahnya.
  17. Cooperative integrated reading and composition. merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran Bahasa dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping.
  18. Word square. Metode ini pengembangan dari metode ceramah, di mana guru menjelaskan kemudian memberikan lembar tugas yang harus dijawab menggunakan teka-teki silang.
  19. Scramble. Hampir sama dengan word square bedanya adalah dengan mengacak huruf yang ada.
  20. Concept sentences. salah satu teknik dari cooperative Learning,dimana anak belajar dengan kelompoknya untuk membuat beberapa kalimat sesuai dengan kata kunci yang telah diberikan oleh guru.
  21. Complette sentence (Melengkapi paragraf).
  22. Pembelajaran otentik. Dalam metode ini, anak dapat menceritakan pengalaman atau mengajukan pertanyaan yang terintegrasi dengan mata pelajaran.
  23. Inquiry. Metode ini melibatkan kemampuan anak secara maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
  24. Berbasis proyek dan tugas. Metode ini menggunakan lingkungan belajar siswa yang didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap hal-hal yang akan diamati yang pada akhirnya menghasilkan sebuah produk atau pengetahuan baru.
  25. Pembelajaran berbasis jasa dan layanan (service learning). Metode ini menggabungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, atau sebaliknya.

Sekian dulu, karena tangan saya sudah mulai keriting. Silahkan beri masukan atau tambahan di kolom komentar. Mengenai metode pembelajaran, selengkapnya bisa dilihat di sini. Metode mana yang menurutmu menarik? Selamat mencoba!

Advertisements
Posted in Mom Life, Opini

Manfaat Travelling bagi Proses Belajar Anak

Kali ini saya akan mengupas tentang learning by travelling. Menurut Nawijn (2012) dari Rotterdam University, ia menemukan hubungan yang signifikan antara travelling dengan subjective well being. Selain hepi-hepi manjyaah a la Syahrini, travelling juga memiliki dampak positif loh bagi proses belajar anak. Nah, apa sih sih manfaat travelling bagi proses belajar anak versi saya?

  1. Menstimulasi perkembangan otak anak.
    • Pada saat anak belum mulai berbicara, biasanya anak akan menunjuk kepada hal yang ingin ia ketahui, dengan travelling akan membantu kita untuk memperkaya kosa kata mereka tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya.
    • Pada anak yang lebih besar dan sudah bisa berbicara biasanya ia akan bertanya. Bertanya, ya hal yang simpel, tapi dengan bertanya, anak-anak akan semakin mengerti tentang hal-hal yang terjadi di luar dirinya dan di luar kebiasaannya. Apalagi pada anak prasekolah yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka biasanya akan bertanya tentang keragaman.
    • Jangan lupa meski kita seringkali tidak mengerti tentang bahasa di suatu daerah atau suatu negara, tapi dengan senyuman semua orang tahu bahwa kita menerima keberadaan mereka. Hal ini juga harus kita tanamkan kepada anak-anak kita bahwa senyuman yang tulus adalah bahasa kebaikan termudah di seluruh dunia.
  1. Menanamkan nilai-nilai agama. Menanamkan nilai-nilai agama gak hanya di pengajian, gak hanya menceritakan ayat-ayat al-Qurán, dan tidak hanya dengan berdoa sebelum dan setelah melakukan sesuatu. Dengan travelling kita juga bisa memasukkan nilai-nilai agama kepada mereka, dengan mengingatkan bahwa Tuhan Maha Hebat bisa menciptakan tempat-tempat yang begitu indah, kita juga bisa menjelaskan tentang perintah dan larangan Tuhan, misalnya, di manapun berada papa dan bunda menjaga sholat lima waktu, buang sampah pada tempatnya, berkata baik, atau kita sebagai seorang Muslim tidak boleh makan daging babi, dan perintah maupun larangan Tuhan lainnya. Penjelasan tentang hal tersebut membuat anak sedikit demi sedikit menyadari tentang pentingnya nilai-nilai agama di dalam hidupnya.

Nyatanya proses belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja kan? Bahkan bisa dengan cara yang sangat menyenangkan. Travelling gak harus mahal kok, kita bisa mendatangi tempat-tempat terdekat dengan kita. Tunggu apa lagi bunda, yuk ajak anak kita travelling 🙂

Posted in Opini

Tinta Hitam untuk Jakarta

Memasuki minggu-minggu menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), siap-siap mata kicer baca opini-opini di media sosial. Selama ini saya menjadi pengamat pasif tentang Pilkada DKI Jakarta, dan hari ini saya tergerak untuk menulis tentang serunya kampanye Pilkada DKI Jakarta tersebut. Biar ada kenang-kenangan Pilkada aja sih hehe.

Kalau bisa dibilang, konstelasi Pilkada DKI Jakarta tahun ini hampir sama atau bahkan sama dengan Pemilihan Presiden (Pemilu) tahun 2014 yang lalu. Para pendukung pasangan calon berlomba-lomba melontarkan berbagai macam isu. Mulai dari isu-isu yang mengandung SARA, isu-isu perkongsian, isu-isu kegagalan di masa lalu, dan isu-isu lainnya.

Saya warga Jakarta dan sangat peduli dengan apa yang sedang terjadi belakangan ini di Jakarta. Tapi kalau saya ditanya pilih siapa, saya Cuma bisa bilang “Au ah gelap!’’ hehe. Saya golput di media sosial, bukan berarti saya tidak memilih salah satu dari dua pasangan calon tersebut. Haruskah saya memberi tahu khalayak ramai tentang pilihan saya? Haruskah saya membela mati-matian calon yang akan saya pilih nanti dengan berbagai cara, termasuk black campaign? Apakah asas Langsung Umum Bebas dan Rahasia sudah tidak berlaku lagi di bumi pertiwi ini?

Saya lebih suka keseruan kampanye jaman saya kecil dulu. Masing-masing paslon membawa arak-arakan dengan mobil dibuntuti dengan arak-arakan lainnya, sambil berorasi dan meneriakkan “Hidup Golkar! Hidup PDI! Hidup P3!’’ (karena pada saat itu hanya ada tiga partai). Ya sudahlah. Bagi saya sekarang bukan saatnya lagi kita ngomongin siapa yang bekerja untuk Jakarta dan apa yang akan beliau berikan? Tapi lihat sekeliling kita, dan temukanlah apa yang bisa kita lakukan untuk diri kita dan Jakarta kita tercinta ini.

Salam Persatuan!

Posted in Mom Life

Mengatasi Tantrum pada Anak

Sebagai seorang ibu, kita menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang baik, tapi pernah gak sih suatu saat anak kita berteriak-teriak atau ngamuk-ngamuk gak jelas? Padahal mungkin kita  mengajarkan hal-hal yang baik kepada mereka? Perilaku tersebut dinamakan tantrum.

Suatu ketika anak kedua saya tantrum, guling-guling di restoran sebuah pusat perbelanjaan. Saya hanya melihat dan menunggunya sambil minum, sesekali saya menawarkan minum untuknya, dan berkata: ‘’Gapapa kalau mau nangis, nanti kalau sudah selesai bunda di sini ya”, sedang suami saya sibuk mengurus kakaknya yang abrak-ubruk ke sana kemari, sambil tersenyum ke arah saya menandakan ia mengerti dengan apa yang saya lakukan. Saat itu anak saya sampai ‘’dipungut’’ oleh cleaning service, saya cuma tersenyum dan bilang terimakasih. Orang yang lalu lalang di sekitar saya juga terlihat berbisik seolah menyindir, nyinyir, berbicara sok tahu: “Itu anak diapain kek biar diem..”, “Duh kasian, mau apa sih tu anak? Diturutin dong, kok dibiarin gitu sih…”, “Kejam nih orang, anaknya dibiarin gitu..”, ada juga yang ngomong ke anaknya yang kecil ‘’Ih liat tuh, huuu malu deh…’’, atau ada yang mengikuti anak saya nangis ‘’huuuu huuu…’’ (rasanya pengen gue serampang pake tatakan gelas), dan semacamnya. Tapi saya berusaha tetap tenang, sambil menunggu tangisnya mereda dan menghampiri dengan sendirinya.

Mengapa anak tantrum?

Biasanya tantrum digunakan oleh anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka, untuk mendapat perhatian, atau mendapatkan hal yang mereka inginkan. Hal ini seringkali terjadi jika kemampuan verbal anak belum mumpuni. Dalam beberapa kasus, tantrum juga digunakan anak-anak untuk menghindari kegiatan yang tidak mereka inginkan (Watson, dkk, 2010). Sebenarnya tantrum ini perilaku normal bagi anak-anak rentang usia dua belas bulan hingga empat tahun, karena emosi mereka sudah mulai berkembang namun perkembangan bahasa belum mumpuni, dan akan berkurang dalam frekuensi waktu tertentu.

Apa yang sebaiknya kita lakukan saat anak-anak tantrum?

  • Mengabaikan perilaku anak (ignore, Martin & Pear, 2003).

Perilaku tantrum mungkin membuat kita gak nyaman, apalagi ditambah mendengar ocehan orang lain yang bikin kuping panas. Toh hidup ini bukan buat menyenangkan orang lain, apalagi mendengar nyinyiran mereka. Kita tidak mau membiasakan anak kita menggunakan tantrum sebagai alat meminta, karena saat itu anak sedang belajar mengendalikan diri, agar dia mampu mengelola emosi.

  • Tunjukkan ekspresi yang wajar

Anak mengikuti orang tua, tidak terkecuali juga saat tantrum. Ibu atau ayah yang ikut tantrum malah akan memperparah keadaan. Sebisa mungkin hindari mengancam, menakut-nakuti, menjanjikan, atau menuruti kemauannya. Karena hal tersebut  tidak akan menyelesaikan masalah. Kita hanya ingin mengajarkan tidak semua yang diinginkannya di dunia bisa terpenuhi, bukan?  Mengancam, dan melakukan hal yang mengekang lainnya hanya akan menimbulkan perilaku destruktif di masa yang akan datang. Jadi tunjukkan ekspresi datar meskipun malu,

  • Tetap lakukan di bawah pengawasan

Jika sedang melakukan prosedur ignore, jangan meninggalkan anak dalam keadaan mengamuk. Tetap awasi hingga anak menghampiri kita dengan sendirinya setelah tangisnya reda. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk hal ini. Di sinilah kita sebagai orang tua juga belajar sabar, setelah sekiranya semua oke, barulah kita tebak perasaannya, dan menjelaskan apa yang sudah kita lakukan. Jangan lupa mintalah maaf kepada orang sekitar jika telah selesai, atau boleh juga pergi dengan cueknya *emak-emak atau bapak-bapak mah bebas xD

  • Berikan penguatan positif setelah perilaku teratasi

Biasanya setelah selesai tantrum anak akan menghampiri kita dengan sendirinya. Berikan pelukan atau cium dan jelaskan bahwa bunda suka dengan anak yang berbicara baik saat meminta, tanyakan kepada mereka tentang penilaian mereka sendiri terhadap perilakunya. Jika mereka menganggap itu tidak baik lanjutkan dengan penjelasan bahwa guling-guling di keramaian tidak akan merubah ayah atau bunda untuk memberikan apa yang mereka inginkan.

  • Buat kesepakatan 

Setelah diberikan penguatan positif tentang perilaku anak, baiknya ayah dan bunda membuat kesepakatan-kesepakatan bersama anak dan lakukanlah kesepakatan tersebut secara konsisten dan kalau bisa (kalau bisa nih yaaaaa) sosialisasikan kesepakatan tersebut kepada semua orang yang sering berhubungan dengan anak, tujuannya sih biar gak ribed jelasin terus hehe. Ayah atau bunda juga bisa dengan menerapkan prinsip token echonomy (Martin & Pear, 2003) di rumah.

Tantrum ga bahaya kok bunda, tapi jika seiring waktu intensitasnya tidak berkurang dan malah timbul perilaku destruktif (menyakiti diri sendiri atau orang lain secara verbal maupun fisik) Ayah atau Bunda bisa membawanya ke psikolog anak terdekat 😉

Setuju banget sih kalau ada pepatah yang bilang ‘’Butuh seluruh desa untuk membentuk perilaku anak’’. Daaaaaan untuk kita semua, jika kita gak bisa membantu orang lain untuk mengatasi masalah, setidaknya berikanlah support terbaik, atau jika tidak mampu juga maka pertolongan terbaikmu adalah diam.

Hugs and kisses

 

Posted in Principal Life

Hai Guru, Pekerjaanmu adalah Mulia

Suatu hari saya ditegur suami saat di jalan bertemu dengan anak-anak murid yang sedang naik motor bonceng tiga, dan saya nanya “Itu anak-anak kita bukan?’’, saat itu suami bilang bahwa itu bukan urusan saya karena sudah bukan jam sekolah. Saya jadi termenung dan berpikir, apakah guru-guru di sekolah memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan?

Beberapa jawabannya adalah Ya. Ada guru bercerita kepada saya bahwa seringkali beliau menegur anak-anak muridnya yang nongkrong di jalan, menggunakan baju bebas, dan bukan di jam sekolah. Ada juga guru yang melihat murid berbuat tidak senonoh, hati beliau ketar-ketir, sehingga merasa harus memberikan arahan kepada mereka. Padahal kalau kita mau bilang, kenapa harus kita? Di mana orang tua mereka? Apakah mereka tidak peduli dengan apa yang anak-anak mereka lakukan? Dan kita menganggap bahwa anak tersebut adalah tanggung jawab kita? Mengapa kita harus khawatir dengan keselamatan anak orang lain? Mengapa kita khawatir dengan pandangan orang terhadap anak orang lain? Mengapa kita peduli dengan masa depan anak orang lain? Mengapa kita rela mengorbankan tenaga dan pemikiran kita demi anak orang lain? Mengapa oh mengapa?

Subhanallah, peran guru ini sangat luar biasa. Berusaha mengcover seluruh kebutuhan siswa, baik itu kebutuhan akademik, kasih sayang, kebutuhan akan perhatian yang tidak di dapatkan mereka di rumah. Mungkin orang-orang materialistis di luar sana memandang sebelah mata, akan tetapi dengan peran seperti itu apakah Bapak-Ibu guru masih memandang mereka lebih baik?

Hei wake up Bapak Ibu! Kita sedang menjalankan sebuah proyek besar, yaitu proyek pembentukan manusia menjadi lebih baik, jadi kita sama dengan mereka.

Berapa banyak orang yang tidak memiliki passion sebagai guru mencoba mengajar di sekolah yang akhirnya… failed! Berapa banyak guru yang akhirnya keluar karena tidak mampu menghadapi siswa dan masalah-masalah yang terjadi di sekolah. Mampukah mereka bertahan dengan peraturan yang telah disepakati bersama? Orang yang beruntung akan bekerja dengan passion, dan orang yang memiliki passion sebagai guru akan mampu mengikuti, belajar, mengambil peluang, dan mengembangkan dirinya.

Projek besar ini hanya dapat diemban oleh orang-orang yang tangguh, dan kita  adalah salah satunya! Berapa banyak anak murid yang akan menyapa dan menyalami kita saat bertemu di jalan? Berapa banyak orang tua yang tersadar bahwa tanpa Bapak ini anak saya tidak akan seperti ini, tanpa Ibu itu anak saya tidak akan seperti itu? Atau jika kita pikir pahit, jika memang jasa kita dilupakan, bayangkanlah berapa dari ratusan anak kita yang akan membawa kita ke surga?

Nah guru, apakah engkau sadar, engkau mencintai muridmu dibandingkan hidupmu sendiri?

Oleh karena itu, angkatlah dagumu dan katakan dalam hati bahwa pekerjaanku ini mulia!

Komunikasi vs Judgement

Pagi tadi saya mengadakan rapat intern dengan para wakil kepala sekolah dan badan pelaksana harian sekolah. Seperti biasa kami membahas hal-hal yang terjadi di sekolah sambil makan gorengan dengan santai. Kami membahas masalah yang terjadi hari itu dan membahas mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan, sambil menandatangani beberapa proposal kegiatan.

Kemudian kami mulai berbicara tentang masalah salah satu wakil kepala sekolah yang sempat berselisih faham dengan seorang guru. Memang beliau dikenal memiliki karakteristik unik, yang mungkin bisa dibilang “Tidak tahu maunya apa”. Semua anak murid takut kepadanya, guru juga enggan bicara dengannya, bahkan wakil-wakil yang lain pun bingung dengan sikapnya. Wakasek tersebut memang sangat disiplin sampai-sampai ‘’apapun’’ yang saya katakan pasti dilakukan (tidak diadaptasi sesuai keadaan). Tapi saya tahu segalak apapun beliau pasti ingin yang terbaik untuk sekolah, muridnya, bahkan teman-temannya. Mungkin banyak hal yang terjadi di masa lalunya sehingga sikapnya seperti itu (dasar anak psikologi). Tapi saya yakin tidak ada seorang guru pun yang punya pikiran jahat kepada anak muridnya bahkan temannya sendiri, hanya saja pola komunikasi yang kurang baik menjadikan beliau tersebut dijauhi oleh anak-anak dan kerabat-kerabatnya.

Inilah pentingnya komunikasi, komunikasi yang baik dapat menghindari judgement, gosip bahkan provokasi. Untuk memperbaiki hal yang mis dalam berkomunikasi kita perlu,

  • Menanyakan secara baik-baik apa maksud dari sikap dan ucapan seseorang, agar tidak timbul kesalahpahaman.
  • Bicarakan secara langsung lebih baik. Hindari memakai perantara.
  • Untuk pimpinan berikan kesempatan individu untuk memberikan penjelasan, fokus kepada hal positif itu lebih baik daripada terus berkutat pada kesalahan individu. Kita juga bisa membentuknya secara perlahan sesuai dengan potensinya.
  • Untuk anak murid, seperti apapun gurumu tetap guru yang harus kita hormati.

So, secerdas dan setinggi apapun jabatan kita, jika tidak didukung dengan komunikasi yang baik, akan merusak seluruh domain kehidupan kita. Selamat ngobrol! 🙂

Posted in Principal Life

Membentuk Tim yang Solid

Heylowww… Ini adalah tulisan pertama saya di blog. Sebenarnya saya pernah mempost tulisan di web sekolah saya, www.smpattahiriyahcakung.com, tapi baru kepikiran bikin blog. Niatnya pengen ngelancarin nulis aja dan berbagi informasi tentang pengalaman selama lima tahun menjadi kepala sekolah. Mohon dimaklum kalau ada penulisan atau tata bahasa yang kurang catchy, karena masih belajar…

Pada tulisan saya terdahulu (bisa diunduh di sini), saya pernah membahas mengenai bagaimana menjadikan sekolah berkualitas, salah satu syaratnya adalah terbentuknya tim managemen yang solid. Membangun sebuah tim yang solid tentu tidak mudah karena menyatukan beberapa pemikiran, ide, bahkan hati. Mengapa hati? Karena membentuk tim yang solid juga perlu membangun chemistry antar individu yang nota bene memiliki sifat, karakter dan kepribadian yang berbeda. Namun inilah tantangannya!

Selama lima tahun ini saya punya catatan penting yang harus dilakukan untuk membangun bahkan mempertahakan tim yang solid di sekolah, check it out!

  1. Pola Komunikasi

Komunikasi adalah ujung tombak kekuatan sebuah tim. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki gaya komunikasi mereka masing – masing. Perbedaan ini kadang membuat penyampaian informasi sering tidak tersampaikan dengan baik, bahkan salah-salah dapat memicu provokasi. Zeram kan? Tim yang solid harus saling mengerti bagaimana pola komunikasi antar anggota tim, terutama pemimpin dari sebuah tim. Tujuannya adalah memudahkan kita untuk mencapai visi bersama.

  1. Mengetahui tipe kepribadian

Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang, individu di dalam sebuah tim perlu mengenal kelebihan dan kelemahan satu sama lain. Oleh karena itu, masing – masing anggota khususnya pemimpin tim harus dapat menyatukan perbedaan. Sebagai ketua atau pemimpin, kita harus bisa mengetahui bagaimana tipe kepribadian dari masing-masing individu. Jika kita mengetahui hal tersebut, kita dapat memberikan mereka tugas yang dapat membuat mereka berkembang dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

  1. Keseimbangan antara tugas dan kesenangan

Tim bukan hanya sekedar mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan secara bersama – sama, memikul beban dan berbagi tugas. Tapi tim juga tempat di mana setiap orang dapat berbagi kebahagiaan dan kesenangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Sesekali adakan rapat santai. Bahas apapun yang terjadi di sekolah namun sambil menikmati makanan yang disediakan, gak usah mewah, gorengan juga sudah senang, lebih baik sih kalau disediain pizza hehe. Hal ini akan memungkinkan untuk mengeluarkan ‘’unek-unek’’ atau masalah-masalah yang tersembunyi, selain itu anggota tim akan mengenal pemimpin lebih baik.
  • Percayai tim. Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan atau mendelegasikan kepemimpinan kepada mereka. Biarkan mereka mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka akan bertanya jika mereka merasa butuh bantuan saja.
  • Berbicara secara personal. Bicaralah, kalau bisa bantu urusan mereka mengenai masalah selain urusan pekerjaan, seperti masalah keluarga, hobbi, atau yang lain. Dengan demikian mereka merasa mendapat atensi yang tulus dari pimpinannya.
  • Sesekali tanyakan saran pada mereka atas suatu masalah yang sulit yang sedang dicari solusinya. Faktanya, seringkali anggota tim memiliki ide bahkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pemimpin. Mereka dapat membantu pemimpin tim dalam mengatasi masalah. Dengan menanyakan saran kepada mereka, akan membuat anggota tim merasa lebih dihargai. Hal ini secara tidak sadar akan meningkatkan kadar kepemimpinan pemimpin dimata mereka. Kita juga bisa belajar banyak dari mereka toh?
  • Berbagi informasi kepada tim. Bisa berbagi informasi mengenai lingkungan, kejadian-kejadian yang terjadi saat itu, artikel yang menarik, berita yang sedang booming dan berita menarik lainnya.
  • Berbagi ilmu atau keahlian. Hal ini selain akan meningkatkan kompetensi anggota tim, juga akan membuat anggota tim merasa bahwa pemimpin mereka tidak sekedar nyuruh-nyuruh saja, namun juga educator bahkan leader mereka. Ini akan membuat mereka lebih loyal kepada kita.
  • Libatkan anggota tim dalam mengambil keputusan yang sulit. Pada saat sulit, tunjukkan bahwa pimpinan mampu mengatasi problem tersebut dan mendapat hasil yang mumpuni. Keterlibatan tim atas proses penyelesaian masalah yang berujung pada hasil, akan membentuk suatu ikatan batin yang luar biasa.
  • Rayakan keberhasilan atas pencapaian target atau keberhasilan melewati masalah bersama-sama dengan anggota tim. Kita bisa mengajak mereka jalan-jalan, mancing, nonton bersama, makan bersama, dan lain-lain.

That’s all! Semoga kita dapat membangun tim yang solid!